Ide pengembangan game yang saya ajukan adalah game tentang kerajaan Sriwijaya yang saya beri judul Dato of Srivijaya. Konsep game ini sebenarnya sudah pernah dibuat Agustus 2019, tapi hanya iseng saja dan tak punya arah tujuan. Â Jadi ditinggalkan saja karena tak ada dukungan dari pihak manapun.
Saat itu saya berpikir sistemnya adalah pengumpulan proposal saja ke Kemendikbud jadi semua berkas harus disiapkan dari awal dan dana anggaran saat itu masih sekitar 13 juta saja dari estimasi perhitungan saya. Sebenarnya estimasi tersebut pernah saya pakai dalam penggalangan dana di Kitabisa di 2017 dan Indiegogo di 2019 yang gagal. Di akhir bulan Juni, saya mengontak orang Dinas Kebudayaan yang kebetulan nomernya saya dapat dari poster lomba karya tulis ilmiah Betawi 2019 tahun lalu.
Ketika saya sampai di kantor Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, saya terkejut yang saya kontak selama itu adalah Kepala seksi bidang sejarah, Pak Puji. Sebenarnya saya bisa saja menaruh proposal tersebut di meja depan kantor Dinas Kebudayaan, tapi hal tersebut baru saya sadari belakangan sehingga saya terpaksa menjelaskan apa yang saya ingin ajukan.Â
Dato of Srivijaya adalah game strategi tentang kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 di mana pemain membangunan kerajaan Sriwijaya dengan keakuratan sejarah yang tinggi. Sebenarnya pak Puji berharap saya membuat game tentang Betawi yang bisa mendapatkan bantuan juga dari DKI, tapi ia tetap mendukung proposal saya.
Ketika pendaftaran FBK dibuka, ternyata hanya subtansi dari program dan rancangan anggaran belanja dulu yang mesti diisi. Berkas-berkas yang sudah disiapkan semua tidak bisa dipakai dan saya baru tahu bahwa jika lolos tahap subtansi baru tahap proposal. Akhirnya saya mengisikan data di website FBK Kemendikbud di pertengahan Juli 2020 dan tak tahu bagaimana hasilnya hingga saya menduga FBK tak lolos.
Alhasil, saya memilih fokus dalam merilis Surabaya Inferno yang baru masuk ke Steam di pertengahan Agustus 2020 dan membutuhkan waktu 4 minggu untuk menyelesaikan masalah halaman Surabaya Inferno yang dimasalahkan oleh pihak Steam (mereka melakukan resensi tiap 3 hari sekali jika diminta) dan aplikasi gamenya yang sempat tak berfungsi.
Di 3 September 2020, saya mendapatkan kabar dari Kemendikbud bahwasnaya saya harus mempersiapkan dan mengirim proposal hardcopy serta softcopy. Tentu saya terkejut dan merasa beruntung karena semua berkas sudah saya siapkan. Mungkin hanya pergantian tanggal dan pengerjaan game di proposal saja. Tadinya saya mau mengganti anggaran yang saya masukan sekitar Rp 16.6 juta tapi karena takut ditolak dengan perbedaan anggaran yang diajukan awal, Â akhirnya saya sesuaikan saja dengan rancangan anggaran yang ada.
Setelah mengumpulkan proposal sehari sebelum tanggal 10 September, saya fokus kembali ke Surabaya Inferno yang akhirnya rilis di 20 September 2020 setelah menyelesaikan permasalahan Surabaya Inferno yang belum diintergrasikan dengan sistem Steam.