Dengan demikian, bergosip telah menjadi naluri manusia yang fundamental karena hidup kita berakar pada berkelompok. Kita tidak hanya hidup dalam kelompok, tetapi kita juga bergantung pada orang-orang dalam kelompok untuk bertahan hidup.
Karenanya, hampir dapat dipastikan, kita suka bergosip dalam setiap perbincangan dengan orang-orang terdekat. Kita semua melakukannya, di mana pun dan kapan pun.
Sebagai benteng pertahanan diri
Ini adalah apa yang saya sebut sebagai "pengalihan isu". Ini terjadi kepada orang-orang yang tengah dibelenggu banyak masalah dan tidak mampu menyelesaikannya.
Mereka melepaskan diri dari masalah mereka dan lebih memilih untuk memikirkan masalah orang lain sehingga mereka tidak harus memikirkan masalah mereka sendiri.
Mengemis apresiasi
Ketika Anda berhasil membongkar detail-detail kehidupan orang lain, hampir dapat dipastikan bahwa Anda berharap dilabeli sebagai seseorang yang up to date.
Ya, mengakulah.
Merasa diperlakukan tidak adil
Ketika Anda merasa menjadi korban atas ketidakadilan ... Ah, sudahlah, Anda pasti mengerti maksudnya.
Mengapa bergosip itu buruk?
Saya merasa payah kalau harus melewatkan bagian ini.
Informasi yang kita terima belum terjamin kebenarannya
Dalam pemahaman Hermeneutika, informasi yang disampaikan seseorang besar kemungkinan tidak lagi objektif. Kita punya kecenderungan untuk "mencoret-coret kertas putih yang kosong".
Dalam konteks bergosip, kita tidak hanya membocorkan rahasia orang lain, tetapi di atas itu, kita juga cenderung menambahkan bumbu ke dalam cerita.
Kita suka mencampuradukkan kebenaran dengan pendapat kita sendiri. Kita suka mendramatisasi perkataan kita untuk menarik perhatian. Kita senang menanggapi sebuah isu dan membagikannya kepada orang lain sehingga isu tersebut tidak lagi benar sepenuhnya.
Beri Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!