Selama saya menerapkan prinsip amor fati, saya telah punya semacam robot penjaga di pikiran saya. Ketika sebuah kekhawatiran melanda, otomatis saja pikiran saya berbisik, "Apa sih buruknya ...?"
Besok adalah pengumuman hasil penilaian SNMPTN. Banyak dari teman saya yang bilang bahwa mereka overthinking dengan hasil besok.
Namun saya harus jujur, pikiran saya menyangkal segala bentuk harapan dengan bergumam, "Apa sih buruknya kegagalan itu? Jalan lain masih terbuka. Duh, artinya saya akan belajar lebih keras lagi. Betapa gembiranya saya, sebab banyak pengetahuan baru sedang menanti. Toh tidak kuliah pun sarana pembelajaran masih banyak. Sarana bersosialisasi ada di mana-mana. Oh, saya bersyukur!"
Inilah mengapa solusi dari overthinking adalah prinsip, atau lebih tepatnya prinsip amor fati. Sekian melekatnya prinsip itu dalam diri saya hingga saya tak lagi takut dengan berbagai kemungkinan yang ada. Duh, air mata mulai lahir di sudut mata!
Berharaplah akan datangnya peluang dan penindasan yang tak terbatas di setiap saat. Berharaplah akan datangnya penderitaan beserta dengan kebebasan. Harapkanlah penderitaan yang datang dari kebahagiaan.
Atau, kebijaksanaan yang datang dari ketidakmengertian. Atau, kekuatan yang datang dari kepasrahan.
Berharaplah bahwa segala sesuatunya akan terjadi sebagaimana mestinya. Ingat, Anda tidak akan tahu rasa nikmat kebahagiaan jika Anda tidak pernah menderita. Anda tidak akan tahu nikmatnya rasa kenyang jika Anda tak pernah merasa lapar. Segalanya seimbang. Jadi, apa yang Anda khawatirkan?
Duh, overthinking jangan dibiarkan menggerogoti pikiran Anda. Sekali Anda membiarkannya, semakin sulit menyembuhkannya.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI