Mohon tunggu...
Muhamad Rafi
Muhamad Rafi Mohon Tunggu... Mahasiswa - Panggilan aja Rafi

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Asmara Hadi: Sastrawan Era Pujangga Baru (Antara Sastra dan Politik)

11 April 2022   22:20 Diperbarui: 11 April 2022   22:21 1159
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

PENDAHULUAN

Era Pujangga Baru sudah ada sejak tahun ’30-an. Pada tahun 1933 Sutan Takdir Alisyahbana berhasil menerbitkan majalah Pujangga Baru. Tujuan dari terbitnya majalah tersebut agar dapat menumbuhkan kesusastraan yang baru sesuai dengan perkembangan zaman dan mempersatukan para sastrawan dalam satu wadah, yaitu majalah. Berdirinya majalah Pujangga Baru adalah bukti akan kebutuhan masyarakat pada kala itu akan suatu media publikasi yang membahas dan mengelompokan karya sastra. Di era Pujangga Baru banyak karya sastra yang diciptakan lebih cenderung ke arah nasionalis, tetapi ada juga sastra idealistik dan romantis.

Sastrawan merupakan sebutan untuk seseorang yang menggeluti dunia sastra secara mendalam, bukan hanya sekadar mengenal sastra saja. Bisa dilihat bahwa pada era Pujangga Baru banyak bermunculan para sastrawan. Tidak terkecuali adalah Asmara Hadi, seorang sastrawan yang membuat karya sastranya condong ke arah nasionalis dan romantik. Selain seorang sastrawan, Asmara Hadi juga menggeluti dunia politik di era itu. Karya sastra Asmara Hadi berbentuk puisi serta cerita pendek. Biasanya Asmara Hadi menyuarakan semangat kebangsaannya melalui puisi-puisinya yang disebut sebagai api nasionalisme.

Alasan artikel ini mengambil topik Asmara Hadi karena adanya keunikan dari dalam dirinya. Asmara Hadi memiliki perbedaan sendiri di antara sastrawan lainnya. Ketika Asmara Hadi terjun ke dunia politik maka di situlah letak keunikannya. Asmara Hadi seorang penyair yang romantis pula, serta selalu menyuarakan sikap nasionalismenya lewat karya-karya puisi. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui biografi seorang Asmara Hadi, untuk mengetahui perjalanan Asmara Hadi di bidang politik, serta untuk mengetahui karya-karya yang sudah beliau tulis ketika semasa hidupnya. Selain itu, artikel ini juga memberikan manfaat kepada para pembaca tentang perjuangan Asmara Hadi menjadi seorang sastrawan hingga seorang politikus, Dengan demikian, para pembaca juga akan menambah wawasan tentang perjuangan Asmara Hadi.

PEMBAHASAN

Era Pujangga Baru sudah muncul sekitar tahun 1930-an. Karya sastra diciptakan oleh para sastrawan Indonesia yang luar biasa. Sastrawan memiliki posisi sebagai anggota masyarakat yang tidak lepas dari sosial budayanya. Dengan begitu juga, sastrawan Pujangga Baru tidak bisa lepas dari latar sosial budaya dan sejarah bangsa Indonesia itu sendiri, terutama Asmara Hadi. Seorang sastrawan asal Indonesia yang identik dengan karyanya yang romantis dan nasionalis. Untuk lebih lanjut mari kita bahas biografi Asmara Hadi.

Asmara Hadi lahir di Talo, Bengkulu pada 8 September 1915. Beliau berasal dari keluarga yang bisa dibilang terpelajar. Nama ibunya Khamaria dan ayahnya bernama Khobri bin Merah Hosen yang diberi gelar Raja Api dari Bengkulu. Memiliki tiga orang bersaudara, yaitu Hanafi, Arifin, dan Maimunah. Tahun 1935 anak angkat dari Ibu Inggit Ganarsih dan Bung Karno yang bernama Ratna Juami Ningsih menikah dengan Asmara Hadi. Berkat pernikahannya Asmara Hadi dan Ratna dikaruniai delapan anak, yang terdiri dari lima orang laki-laki dan tiga orang perempuan.

Asmara Hadi pernah mengenyam pendidikan di HIS Bengkulu, kemudian MULO di Jakarta, dan yang terakhir Sekolah Menengah Taman Siswa di Bandung. Penyair asal Bengkulu ini memiliki nama samaran yang beragam. Nama samaranya tentu saja memiliki makna tersendiri baginya, misalnya Ipih A. Lalu, nama Hadi yang merupakan kebahagian dari namanya, yaitu Abdul Hadi. Kemudian ketika beliau jatuh cinta kepada Inggit namanya berubah menjadi Hadi-Ratna yang memiliki arti lambing persatuan antara mereka berdua. Ketika menulis di majalah Mandala, namanya berubah lagi menjadi Ibnu Fatah.

Asmara Hadi mempunyai pengalaman tentang pekerjaannya yang beragam semasa hidupnya, terutama di bidang politik. Beliau aktif di politik Partindo, terakhir menjabat sebagai anggota MPRS. Waktu konstituante pertama kali dibentuk, Asmara Hadi menjabat sebagai menteri negara dan wakil ketua DPRGR. Asmara Hadi merupakan salah satu kader yang disatukan langsung oleh Bung Karno dalam kursus politik. Maka, jangan heran jika pandangan politik Asmara Hadi terpengaruh kuat oleh Bung Karno.

Tahun 1934-1935, Asmara Hadi dibuang ke Ende, Flores. Beliau pernah beberapa kali dipenjara oleh pemerintah Belanda. Ketika sudah keluar dari penjara, Asmara Hadi langsung masuk ke dalam suatu pergerakan, yaitu Gerindo. Setelah masuk pergerakan tersebut, Asmara Hadi sering masuk penjara pemerintahan Hindia-Belanda bersamaan dengan Amir Sjarifuddin (pemimpin gerakan Gerindo) dan dipenjara selama kurang lebih tiga bulan.

Setelah sekian lama mendekam dipenjara, akhirnya Asmara Hadi kembali melanjutkan perjuangannya menjadi seorang politikus. Tahun 1945, beliau menjadi anggota KNIP, kemudian bergabung dengan PNI. Saat itu, Asmara Hadi menjadi anggota Komite Khusus DPP PNI, yang bertugas merancang rumusan baru tentang ideologi partai. Dengan hal tersebut, maka beliau mendesak pimpinan partai untuk menilai kembali kedudukan partai dilihat dari ideologi partai itu sendiri.

Ketika adanya era Orde Baru, Asmara Hadi berhenti dari dunia politik. Beliau kembali menekuni dunia sastra dan jurnalistik. Kedua hal tersebut, sudah menjadi panggilan jiwanya. Pengalamannya pada bidang jurnalistik bisa dibilang cukup banyak. Mulai dari pimpinan redaksi Pikiran Rakyat dan pimpinan majalah Toejoen Rakyat. Tidak lama kemudian, Asmara Hadi bekerja sebagai redaktur harian Bintang Timoer dan redaktur pada majalah Efficiency. Pernah juga bekerja di Penerbit Pembangunan.

Di bidang sastra Asmara Hadi selain menulis puisi, beliau juga gemar menulis cerita pendek. Sebagian karya-karya puisi Asmara Hadi penuh dengan kesedihan. Ketika sedang berjuang, Asmara Hadi meneladani seorang pejuang wanita asal Jerman, wanita tersebut sangat gigih dan wanita asal Jerman itu bernama Rosa Luxemburg. Ketertarikan kepada wanita tersebut tertuang ke dalam sebuah puisi yang berjudul Rosa. Sedangkan cerita pendek yang ditulisnya berjudul Yang Tidak Dapat Dihilangkan. Cerita pendek tersebut berisi tentang riwayat temannya selama perjuangan yang sudah kehilangan harta bendanya. Cerita pendek lainnya berjudul Di Belakang Kawat Berduri yang mengisahkan pengalamannya selama ditahan oleh Belanda.

Kegagalan cinta bagi Asmara Hadi menimbulkan semangat yang tak kunjung padam. Semangat  itulah yang melahirkan sebuah sajak Kepada Diponegoro. Semangat kebangsaan yang ada di dalam puisinya dilihat melalui unsur romantik yang dipadukan dengan patriotisme. Dengan begitu, isi puisinya penuh dengan harapan untuk bangsa Indonesia.

Beberapa puisi karya Asmara Hadi yang menggambarkan semangat kebangsaan, yaitu:

  • Bangsaku Bersatulah
  • Chandara Birawa
  • Sengsara Doenia
  • Kemenangan Pasti

Selain puisinya yang menggambarkan kebangsaan, ada juga puisinya yang lain, seperti:

  • Nasib Tanah Airku
  • Sekarangan Kembang
  • Merindukan Bahagia
  • Rindu
  • Generasi Sekarang
  • Pesanku
  • Kuingat Padamu
  • Hidup Baru
  • Kami Penabur
  • Selamat Tinggal Periangan

KESIMPULAN

Pujangga Baru sudah ada sekitar tahun 1930-an. Pujangga Baru merupakan satu hal yang penting dalam perjalanan sastra Indonesia. Sutan Takdir Alisjahbana atau biasa disingkat STA menjadi pelopor era Pujangga Baru. Karya sastra yang muncul di era Pujangga Baru cenderung ke arah nasionalis, tetapi tidak menutup kemungkinan adanya sastra yang berbentuk idealistik dan romantis. Sastrawan asal Indonesia yang menciptakan karyanya ke arah nasionalis adalah Asmara Hadi.

Asmara Hadi merupakan seorang sastrawan asal Bengkulu. Beliau pernah terikat di politik Indonesia dan juga pernah menggeluti dunia jurnalistik. Pengalamannya yang banyak tentang dunia kepolitikan tidak membuat Asmara Hadi lupa akan jati dirinya sebagai seorang sastrawan. Banyak karya-karyanya yang ditulis seakan-akan menggambarkan rasa kebangsaannya terhadap Indonesia. Lewat kepribadiannya Asmara Hadi memiliki keunikan tersendiri, yaitu bisa bergelut di dunia politik sambil menggores pena di atas kertas dengan situasi yang dialaminya.

Daftra Pustaka

Ensiklopedia Sastra Indonesia. Asmara Hadi (1915-1976).

.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun