Ah, sedihmu jangan berlarut-larut Kutran. Banjir gol ke gawangmu itu bukan sepenuhnya kesalahanmu. Tapi juga kesalahan lini pertahanan yang membiarkan terlalu banyak ruang tembak untuk pemain-pemain lawan.
Jangan lupakan pula fakta. Gawang Kutran memang kebobolan 19 kali. Inggris menembak tepat ke gawang  Kutran 19 kali dan Brasil 23 kali, total 42 kali. Menjadi gol 19 kali, berarti Kutran berhasil menyelamatkan gawangnya 23 kali (55%).
Pikirlah pula soal 42 kali tembakan tepat ke gawang dalam dua kali laga. Itu sih bukan menunjukkan kelemahan kiper lagi. Tapi kelemahan lini pertahanan.
Kiper itu menjaga gawang, agar tak kebobolan. Tugas pemain bertahan menghadang lawan, agar tak leluasa menembakkan bola ke gawang.Â
Lepas dari kekalahan spektakuler itu, anak-anak Kaledonia Baru memang layak diapresiasi. Aku menyaksikan di tipi bagaimana Brasil menghujani gawang Kaledonia Baru dengan 9 gol. Mungkin ada yang menganggap Brasil lebay, tapi jelas mereka sportif. Target sepakbola itu, ya, menjaringkan bola ke gawang lawan sebanyak mungkin secara sah. Itu yang dilakukan Brasil dan itu pula yang dipahami Kaledonia Baru.
Apakah anak-anak Kaledonia Baru itu kena mental? No way! Mereka memang Gen Z, tapi jelas bukan Kaum Stroberi yang cerlang tapi gampang terluka, ngambegan. Kesenggol dikit langsung menggelepar-gelepar, macam pelanduk keinjek gajah.Â
Aku saksikan di tipi, betapa pemain-pemain Kaledonia Baru itu pantang menyerah. Tidak down, tidak panik, dan tidak jadi kasar. Mereka konsisten bertahan secara spartan dan menyerang jika ada peluang.Â
Kapten Upa berkata:
"Memang sayang sekali melihat hasil pertandingan. Kami sudah mencoba menekan terus-menerus. Tapi begitulah hasilnya." [3]
Itu soal mentalitas dan persepsi. Anak-anak Kaledonia Baru itu mempersepsikan diri menekan anak-anak Brasil. Walau faktanya penguasaan bolanya cuma 22% dan hanya 1 tembakan tepat ke gawang.
Persepsi, itu koentji. Kalau pemain mempersepsikan diri sebagai kasta rendahan, maka lawan siapapun pasti kalah. Itu mentalitas pecundang.