Waktu itu saya mengiyakan saja. Ada logikanya juga, sih, menurut pikiranku waktu itu.
Tapi setelah terlibat mengajar, saya kemudian mencampakkan tamsil itu ke para-para. Dan jika sekarang ada pengajar yang ngomong begitu di depan kelas, saya pasti akan keluar dari kelas itu.
Kenapa rupanya?
Saya pikir tamsil gelas untuk otak itu mengacaukan dua hal yaitu daya tampung dan daya jangkau otak.Â
Daya tampung otak menurutku tak berbatas. Bisa diibaratkan seperti sumur tanpa dasar -- bukan bocor, ya. Tak akan pernah penuh, sebanyak apapun air (baca: sains) diisikan.
Hanya ada satu hal yang membatasi daya tampung otak, yaitu kemalasan berpikir. Kemalasan berpikir itu semacam sumbat yang menjadi dasar sumur. Sehingga air akan luber jika sumur diisi air terus-menerus.
Lantas kenapa ada orang yang keranjingan sains sosiologi tapi tak gairah pada sains kimia? Nah, itu soal fungsi reseptif dan selektif pada otak. Seseorang bisa saja memilih untuk belajar sosiologi ketimbang kimia. Dengan kata lain, spesialisasi.
Sebaliknya dengan daya jangkau otak. Sifatnya terbatas dan faktor pembatasnya adalah kualitas dan kuantitas sains (dan pengetahuan) yang tertampung di dalamnya.Â
Semakin tinggi kualitas dan kuantitas sains yang tertampung otak, semakin luas dan jauh daya jangkau otak atau pemikiran. Itu sebabnya orang berpendidikan memiliki wawasan lebih jauh dan luas ketimbang orang tak berpendidikan.
Ketimbang bersandar pada tamsil atau filosofi gelas itu, dalam mengajar dan belajar saya kemudian bersandar pada filosofi "kepala kosong pikiran terbuka" dari Taylor dan Bogdan.
Maksudnya begini. Kepala kosong itu bukan berarti otak melompong tanpa isian sains atau pikiran. Tiap otak punya kandungan sains. Tapi kandungan sains itu jangan digunakan sebagai predisposisi untuk langsung menerima atau menolak tambahan sains baru.Â
Beri Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!