Serta menjauhkan anak dari HP pintar, agar ia tidak mengakses jejaring sosial yang dapat berbahaya pada moralnya, terutama pada gambar-gambar yang bisa mengundang syahwatnya.
Selanjutnya orang tua juga perlu menerapkan kedisiplinan pada anaknya, mulai dari shalat tepat waktu, membantu orang tua dengan memberikan pekerjaan yang ringan yang sesuai dengan kemampuannya.Â
Puji anak saat melakukan hal-hal yang bermanfaat dan menegurnya ketika ia melakukan kesalahan, agar anak berhati-hati dalam memilah mana pekerjaan yang berfaedah dan yang tidak, dan ajarkan anak untuk tentang arti dari sebuah bertanggung jawab.
Ketiga :
Jadikan Anak Sabagi Sahabat Ketika Telah Berumur 15 s.d 21 Tahun:Â Pada tahap ini kita sudah bisa memberi ruang pada anak dengan menempatnya sebagai teman/sahabat kita. Berkomunikasilah dengan baik, mendengarkan masalah-masalah yang di rasakannya dan mencoba memberi solusi cerdas dan terbaik.Â
Perlu digaris bawahi pada usia tersebut anak telah mencapai masa aqil baliq, jadi sudah bisa diberi pengertian tentang kewajibannya selaku muslim/muslimah bahwa sang anak telah mulai dicatat amalnya oleh malaikat baik itu pahala maupun dausa, yang menjadi nilai hisabnya di akhirat nanti.
Bila mungkin orang tua juga harus mengajari anak tentang keahlian yang bisa membuatnya survival dilam menjalani kehidupannya kelak, seperti berenang, memanah, dan ketrampilan hidup lainnya.Â
Akan lebih baik jika anak pada usia ini untuk menimba ilmunya dengan mondok di pesantren modern maupun salafi, yang akan membuatnya mengenal lebih mendalam tentang ilmu tauhid, fiqah, akhlak.
Dalam sebuah riwayat yang lain Imam Al-Ghazali juga pernah berpesan "Didiklah anakmu dengan sebaik mungkin, sebab esok ia akan hidup di suatu zaman yang berbeda dengan zaman kamu".Â
Pesan singkat dari imam Al Ghazali begitu sarat dengan maknanya, dan kiranya melalui pesan itu harus menjadi cambuk bagi kita selaku orang tua untuk membentingi sekaligus membekali anak kita dengan ilmu agama, agar anak kita mampu menjadi pribadi yang baik ditengah usia zaman semakin tua.Â
Demikianlah tulisan ini saya buat dengan harapan semoga anak-anak kita nantinya menjadi penyempurna sejarah kita dengan ketaqwaan dan keiman yang melebihi pendahulunya.