"Anjing itu ada di sana," kata laki-laki itu, "tapi mungkin sudah mati."
Dan beberapa orang yang rata rata menghunus sebilah senjata di tangannya langsung berlari tunggang langgang menuju arah yang ditunjuk laki-laki itu. Seakan sedang berlomba menjadi yang pertama menemui anjing yang sedang menolak ajalnya itu.Â
"Tidak ada!" seru laki-laki berkopiah putih yang paling awal mencapai tempat yang ditunjuk laki-laki tadi.Â
"Hanya ada bekas darah," tambah temannya.Â
Raut wajah mereka jelas sekali menggambarkan kekecewaan yang begitu dalam.Â
Di kampung tempat laki-laki tadi, memang sedang ramai-ramai nya orang berburu anjing. Setiap ada anjing yang berani masuk kampung itu, pasti langsung dibikin koit.Â
Sudah puluhan anjing mati di kampung itu. Beberapa orang pemilik anjing di kampung entah di mana datang ke kampung itu dan protes karena anjingnya dibunuh di kampung itu.Â
Hanya saja, mereka akan pulang dengan kecewa. Mereka pasti kalah karena harus menghadapi satu kampung.Â
Sudah sebulan tak ada anjing yang masuk kampung itu. Dan baru semalam laki-laki tersebut mendengar suara anjing yang mengaing kesakitan di luar tembok kamarnya.Â
Laki-laki tersebut keluar dan membopong anjing itu masuk. Dengan telaten di obatinya. Pagi ini, saat orang orang kampung sampai di rumahnya, tentu setelah semalaman berkeliling kampung mencari anjing yang sudah dilukainya itu, anjing itu sedang tertidur pulas di kamarnya.Â
Laki-laki tersebut memang sudah lama hidup sendiri. Istrinya sudah meninggal setelah begitu lama berharap memiliki anak tapi tak kunjung ada tanda tanda hembusan nafas di dalam rahimnya.Â
Sekarang, laki-laki itu memiliki teman setia. Seekor anjing yang telah diselamatkan hidupnya.Â
Setiap pagi, laki-laki itu selalu mengajak anjingnya ke sawah. Dan anjing itu selalu setia menemani nya seakan hendak membayar hutang nyawanya.Â
Sampai kemudian orang orang itu datang lagi. Bukan mencari anjing lagi tapi mereka mencari laki-laki tersebut.Â
Kemudian mereka beramai-ramai membunuhnya.Â
Dan anjing itu pun hanya bisa melihat dari celah-celah daun pintu, sebelum seorang laki-laki menemukan dan juga membunuhnya.Â
Tak ada yang menguburkan kedua mayat itu. Hingga kemudian, muncul virus mematikan di kampung itu.Â
Satu demi satu, warga kampung meninggal secara misterius.Â
Entah benar atau tidak. Yang pasti, aku sekarang sedang berdiri di depan rumah misterius itu. Rumah tempat laki-laki tersebut terbunuh bersama anjingnya. Karena aku anak dari laki-laki tersebut. Karena aku ingin meminta maaf, telah menyia nyiakan dia. Padahal, dia telah mencoba menjadi orang tua yang baik. Walau tak pernah melahirkanku.Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI