Indonesia adalah panggung pertarungan antara komunisme dan kapitalisme. Banyak spekulasi beredar tentang beralihnya kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto.
Setiap pemimpin ada zamannya. Soekarno adalah figur yang paling tepat dalam membangun tubuh nasionalisme dan ideologi Negara pasca kolonial. Dari ceking menjadi berotot. Seperti Napoleon Bonaparte dianggap tepat, ketika Prancis ingin lepas dari cengkaman rezim kuno feodalisme, atau George Washington yang melayani revolusi agung Amerika.
Tapi Indonesia butuh makan. Bagaimana bisa terus memanggul senjata dan berteriak anti imperialisme dengan perut kosong. Temui orang-orang tua dulu, mereka dengan fasih akan menceritakan pedihnya ekonomi zaman konfrontasi. Indonesia mengalami hiperinflasi dalam masa-masa genting Soekarno.
Di sini Soeharto adalah orang yang tepat berikutnya. Indonesia butuh darah segar, dan the smiling general ini membuka keran infus untuk mengalirkan darah kapitalisme global ke Indonesia. Indonesia lalu menjadi macan di Asia.
Adagium Lord Acton yang berbunyi "Power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely" memerangkap Soeharto dan kroninya yang terlalu betah dalam tiga dekade.
Soeharto mundur oleh banyak skenario, dan tidak lepas dari kontradiksi opini internasional. Lalu siapa yang tepat di zaman reformasi ini? Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY atau Jokowi? Seluruhnya tepat, sebagian, hanya satu atau tidak sama sekali, silakan beropini cara internasional.
Tidak perlu memberi jawaban bila perlu, karena zaman sudah bergulir terlalu cepat. Tepat tidak tepat tidak ada bedanya. Yang akan selalu sama, seperti Soeharto, mereka dikitari oleh kroni-kroni korup yang lebih gila dan canggih agar bisa sejajar dengan zamannya.
Indonesia ini seperti bola kosmos yang sudah menggelinding tepat pada orbitnya. Reformasi bersamaan dengan lepasnya zaman kilang menuju tekno digital. Semua ceruk dibanjiri oleh infromasi. Informasi tanpa tapisan yang menumpuk dalam tong sampah peradaban.
Post truth atau politik pascafakta atau era dusta juga berkembang di masa ini. Dunia berjalan secara robotik, para pemimpin dunia sering mengutamakan emosi dan keluar dari inti kebijakan. Emosi telah mengaduk cara berpikir seperti Brexit atau perang dagang China - Amerika.
Dunia sedang menuju keseimbangan palsu. Indonesia pula sedang memajukan bidang debat yang dangkal dalam siklus diskusi terbatas dan kebisingan sosial media.
Bila 57 tahun lalu Kennedy sudah bisa mengajak Amerika pergi ke bulan, kita hari ini sibuk menaikkan pungutan dengan ancaman berdalih defisit anggaran. ~MNT