"Hush, meski kita pekerja kasar, tetap harus puasa," kata Kliwon.
'Weh, Kang Kliwon memang tetap puasa?"
Kliwon menganggukkan kepala, dan mengundang pandangan dari teman-teman yang duduk melingkat di gardu ronda. Angin di luar gardu terasa makin kencang, dan terasa sangat sepi. Padahal waktu baru saja mencapai tengah malam.
"Mau tahu rahasianya?"
Teman-temannya menjawab hampir bersamaan. Kliwon menceritakan pengalamannya dalam mengatur cara kerjanya sehingga tetap berpuasa meski sebagai pemanjat kelapa. "Saya tidak pernah memanjat pohon kelapa saat terik panas mulai menusuk ubun-ubun," ujar kliwon memulai berbagai informasi pribadinya.
Untuk Kliwon akan memulai memanjat pohon kelapa mulai pukul 07.00. Sedikit berbahaya memang, sebab pohon kelapa biasanya masih sedikit berselimut embun. Tentu saja membutuhkan kehatia-hatian agar tidak terpeleset pada batang kelapa yang berlumut.
Sebab embun menjadikan pohon kelapa menjadi licin. Pukul 11.00, Kliwon mulai beristirahat, mandi, dan mengambil wudu. Ia akan berada di Musala sampai setelah salat Zuhur. Mengikuti semaan Alquran bersama Rajab, satu-satunya penduduk kampung yang hafal Alquran.
"Wah, hasilnya sedikit, Kang."
"Saya akan memulai memanjat pohon kelapa setelah pukul 14.00, sampai saat salat Asar."
Harap diketahui, waktu salat jamaah Asar di kampung Kliwon bukan dilakukan pada pukul 15.00 seperti rata-rata di tempat lainnya, tetapi waktunya diundur sampai pukul 16.30. Sebab, kalau salat Asar dilakukan pada 15.00, nggak ada jamaah yang datang, sebab sebagian besar warga masih belum pulang dari mencari rezeki.
"Kalian perlu tahu, pada saat memanjaat pohon setelah mencapai setengah batang, saya akan berhenti sejenak, mengatur nafas. Setelah nafas tak lagi memburu, saya akan melanjutkan naik dan istirahat sejenak setelah mencapai pelepah-pelepah daun kelapa."