Mohon tunggu...
Mira Miew
Mira Miew Mohon Tunggu... Administrasi - ASN di Purwakarta yang jatuh hati dengan dunia kepenulisan dan jalan-jalan

Menulis adalah panggilan hati yang Tuhan berikan. Caraku bermanfaat untuk orang banyak adalah melalui Tulisan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengenal Raden Ipik Gandamana, Tokoh Bangsa Kelahiran Purwakarta

16 Februari 2021   22:15 Diperbarui: 17 Februari 2021   07:09 3034
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber foto: id.rodovid.org

Jas merah

Jangan melupakan sejarah

Kata-kata itu pernah diucapkan oleh guru Sejarah saya ketika SMA sebagai kalimat pengingat agar murid-muridnya tidak lupa akan sejarah negeri mereka sendiri apalagi di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan budaya baru yang membuat sejarah lama bisa jadi terkikis oleh sejarah baru.

Kemudian obrolan hari minggu kemarin bersama beberapa kawan literasi kembali mengingatkan lagi tentang Jas Merah. Kami bertiga kebetulan membahas tentang beberapa pahlawan termasuk pahlawan dari daerah sendiri yang ternyata saya hanya tahu nama namun tidak tahu tentang pahlawan tersebut.

Ipik Gandamanah, nama Pahlawan itu. Pahlawan daerah Purwakarta yang ternyata belum banyak dikenal oleh masyarakat daerahnya sendiri. Masyarakat termasuk saya hanya tahu bahwa itu nama jalan namun tidak tahu tentang sejarah beliau.

Raden Ipik Gandamana Sumawinata lahir di Purwakarta, 30 November 1906. Ipik Gandamana kemudian menempuh pendidikan di daerah Banten . Mulai dari bersekolah di  Europeesche Lagere School (ELS) Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) , Opleiding School Voor Indische Ambtenaren (OSVIA). Setelah menempuh pendidikannya di Banten kemudian aktif di kepamongprajaan.

Ipik Gandamana ternyata memiliki karier politik yang lumayan banyak dari mulai menjadi Mantri Polisi, Camat, Patih, Bupati, Anggota DPR, Gubernur hingga menjadi Menteri Dalam Negeri.

Dikutip dari wikipedia pada tahun 1931, Ipik Gandamana dilantik menjadi Mantri Kabupaten Jakarta. Pada tahun 1942 menjadi Camat Cibereum Tasikmalaya dan kemudian di tahun 1946 dilantik menjadi Patih Bogor.

Menurut informasi yang saya dapatkan dari buku "Penelusuran Arsip Sejarah Kabupaten Bogor". Ipik Gandamana diangkat menjadi Patih Bogor ketika Wilayah Bogor dalam kondisi yang mencekam dan menegangkan karena tentara Belanda telah menyebar di Bogor sambil menyebarkan paham politik adu domba (de vide impera).

 Di masa penjajahan Belanda ketika menjabat sebagai Patih Bogor, Ipik Gandamana yang berdiri di Pihak Republik kemudian sempat dipenjara dan lalu diasingkan oleh Belanda ke daerah Jasinga Bogor.

Pada saat diasingkan pula, Ipik Gandamana diam-diam mendapat tugas dari Pemerintah RI untuk menyusun pemerintah Kabupaten Bogor Darurat yang berpusat di Jasinga dan kemudian ditetapkan menjadi Bupati Bogor yang pertama pada tahun 1948 dan kemudian dilantik lagi oleh wakil Gubernur Jawa Barat untuk merangkap menjadi  Bupati Lebak. Ipik Gandamana menjadi Bupati Bogor dari Tahun 1948  hingga tahun 1950.

Kemudian di tahun 1953, Ipik Gandamana dilantik menjadi Residen Priangan. Dan pada saat menjadi Residen, Ipik Gandamana menjadi salah satu delegasi yang ditunjuk pemerintah untuk studi banding ke Amerika Serikat. Tujuannya mempelajari ketatanegaraan dan tata usaha pemerintahan pada umumnya dan beberapa objek lain pada khususnya.

Jika anggota MPR dan DPR RI sekarang apabila melakukan studi banding tapi tidak pernah ada pertanggungjawaban hasil studi banding itu ke publik, namun berbeda dengan Ipik Gandamana yang menyadari perlunya mempertanggungjawabkan hasil studi banding selama tiga bulan di Amerika dalam bentuk laporan yang kemudian dijadikan buku yang berjudul "Melawat ke Negara Dollar" yang terbit tahun 1956. Laporan tersebut menjelaskan tentang pelaksanaan demokrasi ketatanegaraan dan tata usaha pemerintahan di Amerika dan juga tentang cerita pribadi Ipik selama studi banding di Amerika.

sumber foto : www.jualo.com
sumber foto : www.jualo.com
Setelah itu Ipik Gandamana terpilih sebagai anggota DPR dari Partai IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia) dan tak lama dari itu beliau diangkat sebagai Gubernur Jawa Barat ke-6 dengan periode jabatan dari tahun 1956 -- 1960. Dan pada tahun 1960, beliau kemudian dilantik oleh Presiden Soekarno sebagai menteri dalam negeri.

Ketika menjabat sebagai menteri dalam negeri, Ipik Gandamana pernah mengeluarkan instruksi kepada semua gubernur dan para pejabat yang bersangkutan untuk tidak mengecualikan wanita dari hak untuk dipilih dan memilih serta diangkat sebagai kepala desa. Instruksi ini dibuat sebagai pelaksanaan pengembangan ketatanegaraan khususnya mengenai pemerintah desa.

Pasca gerakan 30 September 1960, Ipik Gandamana beserta Jenderal H.A. Nasution dan R.E. Martadinata terkenal resuffle kabinet oleh Presiden Soekarno karena dianggap anti PKI atau Komunis.

Karier politik terakhirnya adalah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) yang memiliki tugas memberikan nasehat dan pertimbangan kepada Presiden.

Selain itu, Ipik Gandamana merupakan salah satu pendiri dari universitas terbaik di Jawa Barat yaitu Universitas Padjajaran (Unpad). Bukti nyata bahwa Ipik Gandamana merupakan salah satu pendiri Unpad adalah dengan adanya Piagam Penghargaan "Satya Karya Bhakti Pendidikan" yang kini disimpan dengan baik oleh cucunya.

Setelah pensiun, Ipik Gandamana menghabiskan masa tuanya dengan berkumpul bersama istrinya, Nyi Raden Endeh Soekarsih Natanegara dan keempat anaknya dan pada tahun 1972, Ipik Gandamana mendapatkan tanda kehormatan Bintang Mahaputera Utama (III) dari presiden Soeharto. Ipik Gandamana meninggal di Bandung tanggal 06 Agustus 1979 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung.

Menurut salah satu cucu Ipik Gandamana yang berhasil saya dan kawan saya temui yaitu Rd. Ade Yunadi Enjun, di kota kelahiran Ipik Gandamana yaitu Purwakarta masih terdapat rumah tempat Ipik dilahirkan. 

Penulis berfoto bersama cucu Ipik Gandamana, Ade Yunadi
Penulis berfoto bersama cucu Ipik Gandamana, Ade Yunadi
Rumah yang kini dinamakan "Gedung Ipik Gandamana" kemudian dialih fungsikan sebagai tempat usaha berupa kost-kost-an dan hasil dari usahanya ini digunakan untuk mensubsidi sekolah yang dibangun oleh Keluarga besar Ipik Gandamana sebagai sarana untuk meneruskan perjuangan kakek mereka dengan melahirkan generasi bangsa yang tidak hanya cerdas namun berkarakter kuat seperti Ipik Gandamana. 

Sekolah Mutiara Insani yang didirikan oleh keluarga besar Ipik Gandamana dan diketuai oleh salah satu cucunya yaitu Rd. Adi Yunadi Enjun pun mendapat bantuan dari negara Finlandia yang terkenal sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia sehingga sekolah ini menerapkan cara belajar seperti di negara Finlandia.

Sayangnya karier politik yang cemerlang dan banyaknya prestasi yang dibuat oleh Ipik Gandamana semasa mengabdikan hidupnya untuk daerah dan negaranya ternyata belum bisa menjadikannya sebagai pahlawan nasional. Entah apa alasan pemerintah yang belum menjadikan Ipik Gandamana sebagai pahlawan nasional padahal Ipik berdedikasi penuh pada NKRI. Begitu pula dengan pemerintah daerah baik itu di tanah kelahiran ataupun daerah tempat Ipik Gandamana menjabat yang belum terlalu "ngeh" dengan perjuangan Ipik Gandamana ini. 

Di Purwakarta sendiri, nama Ipik Gandamana diabadikan menjadi nama jalan yang sayangnya bukan di pusat kota namun agak melipir sedikit dari kota. Apalagi daerah itu dulunya merupakan tempat prostitusi yang kemudian dengan adanya keberadaan sekolah Mutiara Insani milik keluarga besar Ipik Gandamana menjadi daerah yang jauh lebih baik dan lebih beradab lagi terutama dalam hal pendidikan dan kini menjadi daerah yang maju pesat dengan banyaknya tempat usaha milik masyarakat setempat.

Belum banyaknya sumber informasi baik itu buku, koran maupun media internet yang menceritakan tentang Ipik Gandamana membuat masyarakat belum terlalu mengenal Ipik Gandamana. 

Padahal Ipik Gandamana layak menjadi tokoh panutan dan menjadi Pahlawan Nasional karena kesetiaannya kepada NKRI bukan hanya jargon belaka namun benar-benar diwujudkan dengan dirinya mengabdi untuk negaranya dan tetap bertekad membela negaranya dan tak lupa selalu mengharapkan Ridho dari Allah SWT.

Semoga dengan adanya tulisan ini bisa membantu masyarakat untuk mengenal lagi tokoh-tokoh pahlawan dari daerah khususnya untuk masyarakat Purwakarta dan Bogor sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat Indonesia tentang sosok Ipik Gandamana

Kita tidak boleh melupakan sejarah. Justru yang utama kita harus mengenalkan sejarah itu kepada generasi kita agar mengerti serta paham tentang perjuangan para pahlawan pada saat mendirikan maupun mempertahankan negeri ini dari tangan penjajah.

Salam jas merah, jangan melupakan sejarah

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun