"Pokoknya, jika tidak sepuluh ribu, aku minta ganti pipi saja, hehe." ujar Pak Tua, penarik becak.
Mbak muda itu  tak mau lelaki  tua bangka itu usil. Dengan segera ia merogoh tasnya. Mengeluarkan lembar uang satu-satunya yang ada dalam tas kecilnya. Sepuluh ribu. Dia memberikan uang itu kepada si lelaki dengan wajah yang muram.
"Terima kasih banyak ya!" lelaki tua itu menepuk-nepuk bahu Mbak muda.Â
Perempuan muda itu menatap lekat lelaki tua itu yang sudah jauh ada di seberang. Mengelap baju basahnya dengan telapak  tangan. Perempuan muda itu kembali menangis. Seperti derai hujan. Tangannya meremas tasnya yang kempes.
Perempuan muda itu kemudian menatap dagangannya. Wajahnya semendung langit. Matanya tampak menyipit.
Sebenarnya hati Perempuan muda itu sangat risau berjualan di tempat itu. Selain pembelinya sedikit, dia juga sering digoda lelaki petugas KEAMANAN pusat perbelanjaan yang bernama Barong.Â
Sudah beberapa kali Barong datang kepada perempuan muda itu. Barong juga sering usil kepada dirinya. Kadang ia menemani perempuan muda itu hingga pulang. Kadang berpura-pura baik dengan membantu memijat leher perempuan muda itu. Bahkan kadangkala membawakan makanan yang didapatkannya dari hasil narasi membentak para pedagang kaki lima.
Jika dirinya menolak, lelaki bertubuh kekar dan berkumis lebat itu mengeluarkan kartu pamungkasnya yakni mengancam. Perempuan muda itu tak bisa berbuat banyak. Hanya mengikuti alur yang dikehendaki lelaki itu, sambil melindungi diri dan menjaga martabatnya sebagai perempuan.Â
Sebab dirinya sadar dan amat sadar, sejak ditinggal mati suaminya, ia harus menjalani takdir sebagai seorang janda muda yang sangat menggoda lelaki nakal tanpa naluri kemanusian yang melihatnya. Dan Perempuan muda itu sadar bahkan teramat sadar dengan jalan kehidupannya kini. Tiba-tiba dia teringat dengan anak semata wayangnya.
Toboali, jumat barokah, 5 November 2021
Salam sehat dari Toboali