"Sangat bersedia sekali Pak. Terima kasih pak atas pertolongannya," ujar Bujang sambil mencium tangan lelaki itu. Dan keduanya pun berpisah. Lelaki setengah baya itu masuk ke dalam sebuah rumah bertingkat dengan design arsitektur yang sangat moderen. Rumah yang berhalaman luas. Baru kali ini Bujang menyaksikan sebuah rumah yang sangat artistik dan indah. Bak istana.
Bujang pun kini menjadi sopir lelaki yang dikenalnya di masjid. Ternyata lelaki itu anggota dewan yang terhormat. Dan kini Bujang menjadi teman sehari-hari Pak Dewan. Mengantar Pak Dewan itu susuri jalana jakarta yang macet.
Pada suatu malam, usai membersihkan mobil, Bujang di panggil Pak Dewan ke ruang tamunya yang luas.
"Ada yang bisa saya bantu Pak," tanya Bujang.
"Besok tolong kamu ambil uang di salah satu kolega saya, ya. Lokasinya dekat perkantoran Dukuh," perintah Pak Dewan. Bujang hanya mengangguk.
Setelah sukses mengambil uang dari kolega Pak Dewan yang pertama, Bujang kini bukan hanya menjadi sopir semata namun telah menjadi kurir dari Pak Dewan untuk menerima dana dari koleganya. termasuk mengirimkan dana yang sangat besar kepada kolega Pak dewan lainnya. sebagai lelaki berpendidikan Bujang mulai berpikir keras dengan aksi Pak Dewan, bosnya. Namun Bujang tak mampu menelisik pikiran kelamnya menjadi sebuah pertanyaan, mengingat kesibukannya mengambil dana dan menghantar dana cukup menguras badannya.
Apalagi kini tabungannya kerapkali dijadikan media bagi juraganya untuk menerima uang. Dan gaji Bujang pun kini berlipat ganda. Setiap ada aliran dana yang masuk ke rekeningnya, lelaki berpendidikan sarjana itu juga mendapat komisi yang tak sedikit yang bisa membuatnya bisa membeli satu motor merk terkenal.
Pagi itu, Pak Dewan meminta Bujang untuk menemaninya ke Bandara. Pak Dewan rupanya mendapat tugas keluar Kota dari parlemen. Di dalam mobil Pak Dewan lebih banyak diam. hanya beberapa kali menerima panggilan dari handphone merk terkenal. Dan usai mengantar pak Dewan Bujang rencananya mau pulang Kampung untuk menengok Ibunya. Maklum semenjak bekerja sebagai sopir Pak Dewan Bujang belum pernah pulang untuk menengok Ibunya. walaupun selama ini komunikasi mareka lancar lewat Handphone. Dan Bujang masih ingat dengan nasehat Ibunya lewat speaker handphone.
" Kamu jangan neko-neko di jakarta, Jang. Itu kota yang buas. Rimba yang tak bertaun," nasehat Ibunya.
" Iya, Bu. saya akan menjaga marwah keluarga,Bu," jawab Bujang.
Usai Pak Dewan turun  dan saat hendak memarkir mobil, Bujang kaget setengah mati saat melihat juragannya, Pak Dewan diborgol beberapa orang yang memakai baju bertuliskan KPK. Pak Dewan langsung dibawa masuk ke dalam mobil. Dan dari siaran radio di mobilnya, Bujang mendapatkan kabar terkini dari sebuah radio berita Ibukota bahwa telah tertangkap tangan seorang anggota parlemen di bandara. Ya, dia adalah Pak Dewan juragannya.