Mohon tunggu...
Rusmin Sopian
Rusmin Sopian Mohon Tunggu... Freelancer - Urang Habang yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan.

Urang Habang. Tinggal di Toboali, Bangka Selatan. Twitter @RusminToboali. FB RusminToboali.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Lelaki Itu Hanya Mencintai Kehormatanku

6 Juli 2015   23:05 Diperbarui: 6 Juli 2015   23:12 462
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Fiksiana. Sumber ilustrasi: PEXELS/Dzenina Lukac

Aspri tak habis pikir. Otaknya yang cerdas tak bisa menganalisa fenomena ini. Apakah ini salahku? tanya dalam hati. Atau terlalu turut campurnya keluarga sehingga membuat suasana hidupnya terasa beda dari yang diinginkannya? Atau ada faktor lain diluar keduanya? desisnya dalam hati.

Sebagai wanita kecantikan Aspri tergolong wanita yang biasa saja. Kecerdasan otak dan keramah tamahannya yang membuat Aspri gampang bergaul dan cepat akrab dengan lingkungan sekitarnya.

Berbekal surat sakti keluarganya yang punya kedudukan tinggi di Kabupaten, Aspri akhirnya bisa bekerjadi salah satu Kantor di kabupaten itu. Kendati hanya tamatan SMA, namun kecerdasan Aspri membuatnya cepat dipercaya kepala Kantornya. Tak pelak hubungannya dengan kepala Kantor yang berstaus duda pun mengornamen lalulintas pekerjaannya sebagai bawahan dan atasan.

Di Kantor tempat Aspri bekerja, isu dan konon kabarnya ada hubungan asmara antara kedua insan berbeda jenis ini bukan rahasia umum lagi. Walaupun kicauan dari teman-teman kantornya terus bergema, namun aspri belum menganggap Kepala kantornya sebagai teman dekatnya.

" Pak Kakan kan pimpinan kita. Saya sebagai bawahan wajib menghormatinya," ungkap Aspri saat digoda teman sekantornya.

"Beliau itu duren lho, Aspri. Duda keren," canda temannya. Dan Aspri hanya tertawa menanggapi guyonan di Kantornya.

Aspri tak menampik soalterpincutnya hati Pak Kakan kepada dirinya. Dalam pertemuan di ruangan Pak Kakan beberapakali pria itu menyatakan suara hatinya.

" Apakah saya boleh datang ke Dusunmu," tanya Pak Kakan. Aspri hanya terdiam. Diotaknya terekam narasi dari keluarganya tentang perilaku pak Kakan.

' kamu itu belum tahu siapa sebenarnya Pak kakan itu, Aspri," kata keluarganya.  Kami ini sudah puluhan tahun berkumpul dengan dia. Jadi paham tentang perilakunya," sambung Tantenya.

Tak ada jawaban pasti dari Aspri bukan berarti dirinya tak menyukai lelaki duda itu. Tapi hubungannya dengan seorang lelaki lain yang telah membuat derajat dan martabat hidupnya tereskalasi adalah penyebab dirinya enggan memberi jawaban pasti kepada Kepala Kantornya.

Dimata Aspri lelaki yang kini membina hubungan gelap dengan dirinya adalah lelaki sejati. Bukan hanya mampu menjadikan malam yang indah menjadi malam jahanam bagi dirinya, tapi kedermawanan dan kebaikan yang ditebarkan lelaki itu membuat dirinya tak perlu terlalu menjadi parasit di rumah Tantenya.

Kebaikan hati dan jiwa yang ditebarkan lelaki itu telah mengangkat hidupnya sehingga bisa untuk hidup mandiri tanpa mengharapkan uluran tangan dari keluarganya. Apalagi dirinya masih mempunyai adik yang masih kecil-kecil. Sementara ayahnya hanya seorang pegawai rendahan.

Dan dimata Aspri hanya lelaki itu yang berani mengutarakan niat baiknya kepada keluarganya di Dusun. Sementara pak kakan hanya berwacana saja tanpa bukti kongret.

Hidup yang diangankan Aspri bersama lelaki itu hanya impian. Kekacauan terjadi saat dirinya didatangi seorang wanita setengah baya yang berkulit putih. Narasi dari wanita itu membuatnya harus menguburkan impiannya hidup bersama lelaki yang telah membuatnya kehilangan harga diri sebagai wanita.

" Sebagai wanita kita harus bermartabat. jauhi ayah dari anak-anak saya. Masih banyak lelaki di dunia ini," ucap wanita itu. Aspri pun terkulai. Dunia seakan mau runtuh.

Setali tiga uang dengan lelaki perusak martabat dirinya, Pak Kakan pun kini enggan menoleh dengan dirinya. Lelaki itu menjaga jarak denagn Aspri. Hubungan kerja sebagai bawahan dan atasan pun di kantor pun menjadi hambar. Tak ada lagi sapa dan teguran yang membahagiakan. Semuanya menjadi hampa.

" Maaf, ya Mbak. Pak Kakan tidak mau lagi Mbak berhubungan dengannya. mbak kan tahu sendiri kondisi pribadi Mbak yang sebenarnya," ungkap teman sekantornya seolah menyampaukan pesan Pak Kakan.

" Apa karena aku tidak terhormat lagi sebagai wanita? Apa karena aku sudah kehilangan martabat ku sebagai seorang wanita," desak Aspri kepada teman sekantornya.

' Iya, Mbak," jawab teman sekantornya sambil berlalu.

Hidup memang harus dihadapi, sepahit apapun yang telah terjadi. Nasehat orangtua dan desakan keluarga besarnya membuat Aspri bersedia menerima lamaran dari seorang lelaki muda untuk menjadi suaminya. Soal apa yang akan terjadi nantinya harus dihadapinya sebagai konsekwensi dari perjalanan hidupnya. Dan Aspri tak akan menyesali atas apa yang telah terjadi. Catatan hitam yang telah menorehkan tinta merah dalam buku perjalanan hidupnya sebagai manusia di bumi ini adalah bekal hidupnya untuk menghadapi masa mendatang yang main ganas.

Malam makin melarut. Kerlap kerlip bintang dilangit makin bercahaya dan sangat indah.Kunang-kunang terus menari. Aspri pun terlelap dalam mimpinya menyongsong masa depan. Ya, masa depan untuk anak-anaknya. (Rusmin)

 

 

 

 

 

 

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun