"Saya menggedor pintumu sejak tadi, astaga bel itu, kenapa terdengar nyaring hingga satu blok? Lihat tetanggamu gentayangan hidup penasaran. Apa saya mengganggu?"
"Maaf, aku flu berat"Â
Percakapan berhenti sejenak. Kasak-kusuk di luar telah reda.
Ketika kami bersua dan berbincang, seperti biasa Lao menawarkan balik apa yang sedang dia nikmati. Aku bilang tidak, terima kasih. Aku mengarang punya dua problem fisik yang senantiasa menghantui : gigi dan lambung. Dalihku berubah-ubah, dia mungkin lupa. Aku tidak berbelanja untuk diriku, hanya sedang berhemat.
"Btw, apa kau masih minum obat?" tanyaku. Pertanyaan klinis kami, khususnya dia yang belum sembuh-sembuh juga.
Demi Tuhan, sedikit lagi. Aku berusaha membantunya kembali seperti dulu agar Tuhan membalas usaha secuil apapun dan menyembuhkan psikosomatik yang tersisa dalam diriku, kemudian aku bisa bertebaran di muka bumi. Mungkin ke luar negeri ; kuliah dan bekerja. Tuanku, sangat sepi di Mars. Hampir semua orang di planet ini terdaftar merundungi aku. Bosan mendengar omelan bapak dan mama dan cerita kesuksesan saudara-saudara kandung. Toh Lao juga tidak harus selalu menjadi yang terbaik sekabupaten. Seorang saja pendengar lumayan, aku tidak akan memaksanya berdebat.
Omong-omong kuperiksa gitar akustiknya berdebu. Aku berharap punya skill yang berguna dan menghasilkan uang tambahan ibarat Youtuber. Tanpa itu setidaknya semacam karir yang senantiasa berusaha kupertahankan dalam rezim Orwellian. Aku bahkan tidak tahu apa dia sungguh paham maksudku.
Beberapa waktu kemudian, Lao bertandang balik rumahku mengatakan ingin menemui kawan-kawan lama. Dia kini tengah dalam pengobatan serius.
"Abdul, gilakah aku?"
"Tidaklah... ya kau agak gila, tapi aku temanmu."
"Kau bilang kau pernah mengalami seperti aku sekarang. Kau sudah membaik?"