Selanjutnya, dari konteks pembelajaran yang merdeka, turunlah kepada konteks guru atau insan pendidikan. Nah beberapa karakteristik guru atau insan pendidikan yang merdeka adalah;
- Guru yang berkarya dalam tulus
Guru yang berkarya dalam tulus adalah mereka yang pantang mengeluh, tersebab kenikmatannya dalam menjalani proses. Lalu dari manakah ketulusan itu hadir? Tentunya dari energi kebaikan dan keyakinan pada konsep jangkauan kemanfaatan. Sehingga dari ketulusan itulah, seorang guru akan tetap berkreasi dalam situasi dan kondisi, tanpa berorientasi praktis pada sebuah pengakuan.Â
Karena inspirasi memang sangat mahal harganya, maka pengakuan (baik secara formal dari negara maupun secara nonformal dari berbagai pihak tak terikat) akan hadir dengan sendirinya tersebab hasil tulus kita menciptakan mercusuarnya inspirasi. Dan yang namanya inspirasi tak kan pernah terbatasi oleh ruang, waktu, teritori, maupun demografi.
- Guru yang genuine
Apa itu guru yang genuine? Guru yang genuine tentu akan memapu melahirkan produk yang berupa ide-ide pemikiran yang asli, yang berfilosofi, dan yang berproyeksi. Maka seorang guru yang genuine, tentunya akan memiliki lesatan-lesatan kreativitas yang andal, yang tak sekadar mengekor pada cara dan gaya orang. Bagaimana dirinya menciptakan sebuah program unggulan di sekolahnya, bagaimana dirinya mem-break down sebuah teori menjadi sebuah model, bagaimana dirinya menciptakan berbagai tools pembelajaran yang efektif dan inovatif, dan lain sebagainya.
- Guru yang memilliki prinsip "the power of ngeureuyeuh"
Dalam istilah lain, sustainable. Artinya, guru yang memiliki prinsip "the power of nguereuyeuh", adalah guru yang tak mudah stuck dengan kemunculan dinamika, guru yang berpegang teguh pada impian masa depan, guru yang tetap berkarya di berbagai kondisi, guru yang mampu menjaga budaya kebaikan yang digagas.
- Guru yang ber-DNA guru
Maksudnya? Ya, guru yang DNA-nya memang betul-betul guru. Karena memang ada guru yang DNA-nya malah justru seorang tukang jualan, misalnya. Atau ada guru yang DNA-nya seorang oportunis atau pencari untung. Atau ada juga guru yang yang selalu merasa cukup dengan bekal wawasan yang ada alias merasa tak perlu terbuka terhadap pengetahuan. Padahal hakikat dari seorang guru adalah PEMBELAJAR.
Dan penting bagi kita untuk back to basic.
Back to basic yang pertama adalah, kembali kita mengingat Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 tahun 2005 tentang standar kompetensi. Bahwa sejatinya, guru yang memiliki kompetensi pedagogik, yang berkepribadian, yang profesional, dan memiliki kecerdasan sosial, adalah bekal cukup menyeluruh untuk menjadi seorang guru inspiratif.
Selanjutnya, sebagai guru muslim, tentu perlu juga back to basic terhadap amanat Allah SWT. Bahwa gulat hidup kita dalam dunia pendidikan adalah bagian dari bentuk menolong agama Allah.
Wallohu'alam.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI