Mohon tunggu...
Yovinus
Yovinus Mohon Tunggu... Dosen - laki-laki

Hidup itu begitu indah, jadi jangan disia-siakan. Karena kehidupan adalah anugerah Tuhan yang paling sempurna bagi ciptaanNya

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Godaan Tidak Percaya Tuhan-Menjaga Anak-anak Kuliah di Era Informasi

21 September 2023   15:03 Diperbarui: 7 Oktober 2024   06:44 114
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://www.suara.com/news/2019/07/10/080500/mereka-hidup-tanpa-tuhan-pengakuan-orang-orang-ateis-di-indonesia

Dalam era digital ini, akses ke informasi telah menjadi begitu mudah, bahkan di ujung jari. Namun, sementara kemajuan teknologi membuka pintu menuju pengetahuan yang tak terbatas, ada sebuah bahaya yang mungkin tidak terlalu terlihat, khususnya bagi anak-anak kuliah yang menjalani kehidupan jauh dari orang tua mereka.

Bahaya ini adalah godaan untuk tidak percaya kepada Tuhan dan terjerumus dalam perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama mereka.

Pada dasarnya, kemudahan akses informasi dari internet adalah sesuatu yang patut disyukuri. Hal ini memungkinkan kita untuk mengejar pengetahuan dari berbagai sumber dan menggali pemahaman lebih dalam tentang berbagai topik.

Namun, bagi anak-anak kuliah yang mungkin belum memiliki dasar keagamaan yang kuat, atau bahkan bagi mereka yang memilih untuk menjauh dari ajaran agama mereka, internet bisa menjadi tempat yang berbahaya.

Anak-anak kuliah yang tumbuh dalam keluarga yang taat beragama biasanya memiliki dasar yang kuat dalam keyakinan agama mereka. Mereka tahu apa yang diucapkan oleh orang-orang di internet tidak selalu benar dan mampu memilah informasi dengan bijak.

Namun, bagi mereka yang cenderung malas belajar atau lebih memilih untuk terjebak dalam dunia digital, risiko tidak percaya kepada Tuhan bisa muncul dengan cepat.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi anak-anak kuliah untuk terjerumus dalam godaan ini. Pertama, ketidak pedulian terhadap agama mereka sendiri. Ketika mereka lebih sibuk memainkan ponsel mereka daripada memahami nilai-nilai agama, maka mereka rentan terhadap pengaruh negatif dari internet.

Kedua, ketidak pedulian ini bisa berujung pada ketidaktaatan terhadap orang tua mereka, yang mungkin telah mengajarkan mereka nilai-nilai agama sejak kecil.

Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah ketidak pedulian ini dapat merusak karakter mereka. Mereka mungkin menjadi kasar, melawan orang tua, dan bahkan kehilangan empati terhadap sesama. Di tingkat yang lebih serius, ini bisa mengarah pada kehancuran mental dan moral mereka.

Sementara kebenaran agama dapat ditemukan dalam Kitab Suci, dalam sejarah yang mengikutinya, dalam mukjizat yang terjadi sampai saat ini, dan dalam pengalaman spiritual pribadi, anak-anak yang malas belajar mungkin tidak tahu atau bahkan tidak tertarik untuk mencari informasi ini. Sehingga, mereka rentan terhadap keraguan dan ketidakpercayaan terhadap Tuhan.

Berita baiknya adalah informasi tentang kebenaran Tuhan juga tersebar luas di internet. Mereka yang ingin mencari jawaban atas pertanyaan keagamaan mereka dapat menemukan banyak sumber yang dapat membantu mereka memahami lebih dalam tentang agama mereka. Namun, perlu usaha dan niat untuk melakukan pencarian ini.

Dalam menghadapi godaan tidak percaya Tuhan di era informasi ini, kita sebagai orang tua dan pengasuh harus berperan penting. Kita perlu terlibat aktif dalam mendukung anak-anak kita untuk memahami nilai-nilai agama mereka, mendorong mereka untuk belajar dan berpikir kritis, serta membimbing mereka dalam penggunaan yang bijak terhadap internet.

Kita juga perlu berkomunikasi dengan mereka secara terbuka dan empatik, mendengarkan pertanyaan dan keraguan mereka, dan memberikan dukungan moral dalam pencarian mereka akan kebenaran agama. Kita harus menjaga agar anak-anak kita tidak merasa terisolasi dan tidak memiliki dukungan dalam perkembangan spiritual mereka.

Dengan hati-hati dan perhatian yang tepat, kita dapat membantu anak-anak kita menghadapi godaan tidak percaya Tuhan di era informasi ini, sehingga mereka tetap memegang teguh nilai-nilai agama mereka sambil tetap berkembang sebagai individu yang cerdas dan bertanggung jawab dalam penggunaan teknologi.

Yang tidak kalau pentingnya juga, orang tua harus memberi teladan, jangan hanya pandai berkata tetapi dia sendiri tidak melakukannya. Juga para  guru agama, jangan hanya mereka lebih fokus kepada gadgetnya, tetapi tidak memberikan perhatian lebih kepada kebutuhan moral para anak didiknya.

***

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun