Mohon tunggu...
Melvin Firman
Melvin Firman Mohon Tunggu... wiraswasta -

" hanya orang biasa yang suka iseng nulis-nulis apa yang teringat, terlihat dan terasakan tanpa basa basi dan apa adanya."

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

[Bukan "Love Story"] Takdir...

9 Maret 2018   15:42 Diperbarui: 9 Maret 2018   15:51 367
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Udara Segar, langit cerah dan mentari bersinar di tanah yang subur, tempat tumbuh pepohonan dengan daun-daunnya yang memancarkan sinar kehijauan. Hawa sejuk yang menggelayut dan merasuk kedalam tubuh membuat tubuh terasa nikmat. Ditambah secangkir kopi dan sepotong sandwich buatan sendiri, seakan ikut merasakan cerahnya warna hati dan hari pagi ini. " Yuk.. yah berangkat !", Nayla juga mau ikut yah, boleh kan ?", kata malaikat kecilku mengagetkan lamunan pendekku pagi ini. "Siap, bos, ayo kita berangkat !", jawabku.

Setelah mengantar kedua malaikat kecilku ke sekolah, aku dan Nayla bersegera menuju rumah sakit tempat bundanya dirawat. Dan rencananya memang pagi ini bunda Nayla akan di operasi pengangkatan tumor kecil di batang otak bundanya. Tetapi belum sempurna aku memarkirkan kendaraanku, tiba-tiba hand phone ku berbunyi

" Halo Assalamu'alaikum ". " Dengan bapak Melvin ? ", terdengar suara dari seberang sana. " Yap, dengan siapa aku bicara ? ", tanyaku penasaran.

" Kami dari rumah sakit, mau mengabarkan bahwa istri bapak yang di rawat di kamar 2205, mohon maaf tidak bisa kami tolong. Beliau meninggal dunia karena serangan jantung !, Bapak di minta segera ke rumah sakit untuk menyelesaikan segala keperluannya.!", kata seseorang dari seberang sana.

Bak di sambar petir di pagi hari, seluruh tubuhku lemas serasa tiada tulang yang menempel di kerangkanya. Ku paksakan diri  untuk tetap kuat sambil merapikan posisi parkir kendaraanku. Sewaktu ku tatap wajah Nayla yang duduk di bangku belakang, aku melihat sebuah tatapan kosong yang tiada berisi suatu makna. Aku pun bingung harus bagaimana mengatakan tentang kondisi ibunya yang baru saja meninggal dunia.

" Sini nak, kita tengok bunda "!, kataku seraya menggendong bocah kecil itu dan bersegera menuju kamar tempat ibunya di rawat.. Sesaat setelah melewati kantor pelayanan aku di panggil oleh seorang suster, sambil menenangkan diriku dan mengantarkan kami berdua menuju ruangan 2205. Sepanjang jalan suster itu menceritakn bagaimana kondisi Rani sampai akhirnya di temukan sudah meninggal dunia.

"Sewaktu saya merapikan kamar 2205 tempat istri bapak di rawat tadi, saya kaget setelah melihat bahwa ternyata istri bapak sudah tidak bernyawa lagi. Saya langsung memanggil suster yang lain dan dokter jaga pagi itu untuk memastikan kondisi yang sebenarnya. Kemudian setelah di pastikan bahwa beliau sudah meninggal dan penyebabnya adalah serangan jantung, saya melihat kertas ini terselip di tangan istri bapak. "

Nich barangnya !", cerita suster itu seraya memberikann secarik kertas bertuliskan namaku di bagian depannya. Tidak langsung ku baca tulisan itu semua tetapi langsung saja kumasukan kertas tersebut ke dalam kantung depan kemeja kerjaku sambil terus berjalan menuju kamar 2205. Jantungku berdegup makin kencang, serasa ada gempa bumi di dalam dadaku. Darahku mengalir deras seakan-akan menembus tulang-tulangku.

Sesampai di ruangan, entah kenapa aku tiba-tiba langsung berlari ke dekat ranjang Rani dan mendudukkan Nayla di atas ranjang ibunya. Langsung refleks saja ku peluk tubuh Rani, dan tak terasa bulir-bulir air mata mengalir deras di pipi. Melihat setuasi saat itu, Nayla pun tersadar kaget dan spontan juga menangis keras di sisi ibunya.

Sesaat kemudian aku tersadar akan secarik kertas yang diberikan suster tadi kepadaku, langsung ku ambil danku baca ;

" Mas Melvin, sewaktu mas membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak berada di sisi mas lagi. Surat kecil ini ku tulis sebagai ungkapan hati dan perasaanku kepada mas Melvin. Tadinya aku berharap dapat hidup untukmu mempersembahkan kesenangan yang lebih baik dari yang engkau harapkan. Tadinya aku merasa masih mempunyai kekayaan cinta yang dapat memenuhi hidupmu dengan kesenangan dan kegembiraan. AKu yakin dapat memberikan kebahagian padamu selama beberapa tahun ke depan, kebahagiaan yang tak dapat diberikan seorang wanita manapun kepada sorang lelaki, dan tidak meminta upah untuk itu. Ingin sekali rasanya hidup bahagia bersamamu, sebagai pengobat luka yang pernah engkau alami sebelumnya. Tetapi kemudian aku tersadar, "apa usiaku masih ada ?" Oleh karenanya aku menulis surat ini untukmu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun