Mataku terpaku pada jalanan yang basah. Air tergenang di beberapa jalan yang berlubang. Tetes-tetes hujan masih jatuh beriringan bersama embusan angin sapai-sapai sore ini. Â Gerobak jualan gorengan pun urung kukeluarkan dari perkarangan menuju pasar kaget Ramadan.
Ramadan sudah memasuki sepersepuluh terakhir. Masa sibuk manusia semakin meningkat. Baik itu amalan ibadah maupun persiapan menjelang lebaran. Saat yang lainnya sibuk dengan cerita tentang THR dan beli ini-itu, tidak denganku. Aku sedang berusaha untuk menabung agar lebaran kali ini bisa mudik. Namun, sepertinya harapan jauh dari kenyataan. Â Hidup tak bergulir ke perubahan yang lebih baik. Pencarian masih sama, sulit dan penuh perjuangan.
Lima tahun menahan rindu akan kampung halaman. Berkomunikasi dengan sanak keluarga hanya lewat ponsel. Baru saja semalam aku berkomunikasi dengan mak di kampung.
"Apa kabarmu, Le'?" Suara Mak yang lembut dan mendayu itu menyapaku setelah kuucapkan salam.
"Alhamdulillah, baik, Mak."Aku menyandarkan badan ke dinding . Menahan rindu yang ingin menemukan tuannya. Ingat tentang semua hal di kampung. Suasana rumah dan segala perhatian Mak.
"Le' Ndak pulang lebaran tho?" tanya Mak dengan suara serak.
Aku terdiam, merasa mata ini mulai menghangat.
"Ndak libur, Mak?" Suaraku mulai sengau. Â Aku berbohong, maafkan aku Mak.
"Lho, masak lebaran ndak ada liburnya?" Mak seakan tak percaya.
"Itu, cuma tiga hari, Mak, trus kalau akunya pulang habis waktu di jalan aja kan, Mak?" Kebohongan memang akan melahirkan kebohongan lagi. Aku sedang melakukannnya. Mengaku bekerja di perusaahan padahal hanya penjual gorengan yang kadang luntang lantung kehabisan modal dan tak punya biaya hidup. Di rantau orang terkadang pernah dalam satu hari aku harus banyak minum air putih agar perut berhenti meronta minta di isi. Hidup di rantau jika pulang kampung setidaknya harus membawa oleh-oleh dan cerita yang membanggakan, bukan seperti aku ini yang  masih tak berpunya dan mirisnya lebih parah dibanding jika kutetap memilih berada di kampung.