Aduh..biyung, setelah sampai di salah satu terminal yang ada di kota gudeg itu terlihat terminal sudah penuh sesak dengan calon penumpang yang menunggu bus. Malam semakin larut dan udara dingin mulai menusuk tubuh kami, dinginnya begitu terasa hingga ke tulang. Beberapa jam kami mondar-mandir dalam terminal, berebut dan bersaing dengan calon penumpang lain yang juga menunggu datangnya bus jurusan Surabaya. Â
Kami harus melekan di terminal. Putri semata wayang dan salah satu keponakan kami menjadi nggak enak badan, masuk angin bahkan muntah-muntah gegara semalaman begadang di terminal. Â
Lewat tengah malam kami masih harus bersaing dengan penumpang lain. Setiap bus yang hendak memasuki gerbang terminal dan terdengar suara ayo boyo..boyo..(maksudnya ini bus jurusan Surabaya, red) dari sang kenek (kondektur) langsung saja kami buru dan kamipun berlarian ke arah pintu bus. Â
Kadang kami harus saling sikut dengan calon penumpang lain agar bisa memasuki pintu. Untung saja, anak, istri dan para keponakan tidak ada yang tertinggal. Sejak menunggu di terminal saya sudah wanti-wanti kepada mereka agar sigap, tas ransel di punggung jangan sampai terlepas serta bergandengan tangan yang kuat.
Dini hari akhirnya kami baru mendapatkan bus tumpangan setelah beberapa jam berjuang mengalahkan calon penumpang lain. Hingga keringat mengucur deras membasahi tubuh kami.
Namun bus kali ini sama sekali di luar prediksi. Kami harus rela diangkut bus yang sudah penuh sesak oleh penumpang, kami hanya bisa berdiri, itupun masih harus berdesak-desakan. Kondisi bus juga ala kadarnya bukan seperti bus pertama saat kami berangkat. Â
Bukan AC yang menyegarkan melainkan AB (angin brobos he..he..). Sesekali bau asap knalpot ikut terbawa angin yang mbrobos (menerobos) ke dalam ruangan bus. Belum lagi bau keringat para penumpang lain yang nggak keruan semakin membuat suasana dalam bus terasa kurang nyaman. Â
Kami berdiri cukup lama dalam bus, begitu ada penumpang turun dan kursinya kosong langsung saja kami serobot, kasihan putri dan para keponakan kami. Akhirnya petualangan kecilpun berakhir di kawasan Ngawi, setelah para penumpang bus berangsur-angsur turun. Kami baru bisa duduk dengan lega sambil melepas rasa lelah.
Kangen dengan makanan khas desa  Â
Kejadian tak menyenangkan saat tengah malam bertualang dalam terminal ketika pulang mudik tak lantas menyebabkan kami kapok untuk mudik. Â
Pekarangan rumah mertua yang cukup luas, terasa meneduhkan karena penuh dengan pohon kelapa dan pohon buah-buahan lainnya tentu menimbulkan rasa kangen tersendiri. Apalagi ketika pohon buah-buahan tadi sedang berbuah dan bisa dinikmati.
Belum lagi makanan tradisional khas kampung halaman yang diolah dalam dapur unik ala pedesaan tentu menghasilkan cita rasa tersendiri. Semua itu akan menciptakan rasa rindu yang mendalam untuk kembali mudik ke kampung halaman tercinta.