Mohon tunggu...
Mateo Davide Sifrano
Mateo Davide Sifrano Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Jurnalis

Lulusan SD-SMP YPJ Angkatan 50 dan saat ini merupakan siswa Canisius College Senior Highschool Angkatan 26, jurusan IPS. Memiliki minat dalam bidang penelitian lapangan. Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang beragam, saya berfokus pada eksplorasi data serta pendekatan kritis dalam melihat fenomena yang terjadi di masyarakat.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

FOMO: Fenomena yang Mempengaruhi Remaja di Era Media Sosial

16 November 2024   13:50 Diperbarui: 16 November 2024   13:56 178
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Solusi untuk Mengatasi FOMO pada Remaja

Mengatasi FOMO membutuhkan kesadaran dan perubahan perilaku dalam penggunaan media sosial. Membatasi waktu yang dihabiskan di media sosial adalah langkah pertama yang bisa diambil. Cobalah untuk menetapkan waktu tertentu setiap hari untuk membuka aplikasi media sosial, misalnya hanya 30 menit hingga 1 jam per hari. Dengan mengurangi frekuensi paparan, remaja bisa lebih fokus pada kehidupan nyata dan mengurangi perasaan cemas akibat perbandingan sosial.

Fokus pada pencapaian dan tujuan pribadi daripada terus memantau aktivitas orang lain. Remaja dapat membuat rencana atau daftar tujuan yang ingin dicapai, baik dalam hal pendidikan, keterampilan, atau hobi. Dengan mengarahkan perhatian pada pengembangan diri, individu bisa mengurangi perasaan ketertinggalan dan meningkatkan rasa puas dengan kehidupannya sendiri.

Kesimpulan

FOMO telah menjadi fenomena yang semakin umum di kalangan remaja dan mahasiswa, didorong oleh penggunaan media sosial yang intensif. Perasaan cemas, rendah diri, dan depresi adalah beberapa dampak negatif yang muncul dari kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang tampak lebih baik di dunia maya. Namun, dengan strategi yang tepat, seperti mengurangi waktu di media sosial, fokus pada pencapaian pribadi, dan melakukan digital detox, remaja dapat mengurangi perasaan FOMO dan meningkatkan kesehatan mental.

Untuk itu, penting bagi setiap individu untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Alih-alih terpaku pada apa yang dilakukan orang lain, mari kita fokus pada perjalanan dan pencapaian pribadi masing-masing. Dengan demikian, kita bisa membebaskan diri dari jebakan FOMO dan menemukan kebahagiaan dalam kehidupan yang nyata.

Daftar Pustaka

1. Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa. (2023). Tingginya intensitas penggunaan media sosial dapat berakibat depresi pada remaja. *Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa, 6*. Diambil dari https://journal.ppnijateng.org/index.php/jikj/article/view/2365

2. STIKES Kendal. (n.d.). Hubungan antara penggunaan media sosial dan kesehatan mental pada remaja. *Jurnal Keperawatan*. Diambil dari https://journal2.stikeskendal.ac.id/index.php/keperawatan/article/view/1831

3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (n.d.). Waspada sindrom FOMO dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental. Diambil dari https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/2538/waspada-sindrom-fomo-dapat-berpengaruh-terhadap-kesehatan-mental

4. Binus University. (2023, June 8). Fear of missing out (FOMO) di kalangan remaja. Diambil dari https://binus.ac.id/malang/communication/2023/06/08/fear-of-missing-out-fomo-di-kalangan-remaja/

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun