Mohon tunggu...
Mustopa
Mustopa Mohon Tunggu... Petani - Petani

Bercerita dari desa

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Pantaskah Guru Disamakan dengan Tukang Ojek?

31 Juli 2023   21:23 Diperbarui: 31 Juli 2023   21:28 222
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Guru, digugu lan ditiru (dipatuhi dan diikuti) kata orang Jawa. Oleh sebab itulah di tengah-tengah masyarakat Jawa, derajat seorang guru ditinggikan. Masyarakat Jawa tempo dulu bahkan menganggapnya sebagai orang suci, setingkat dengan kaum brahmana.

Selama 12 tahun menimba ilmu, saya telah mengenal lebih dari 25 orang guru. Bagi saya, selain kedua orang tua, merekalah yang menjadi sumber mekarnya akal dan nalar saya untuk mengarungi kehidupan. Tanpa mereka, barangkali kemampuan otak saya takkan berkembang seperti saat ini.

Selama menjalin relasi dengan guru di sekolah, tentu ada banyak kesan yang hingga kini masih tersimpan dalam ingatan. Ada guru yang galak, sabar, penyayang, rajin, malas, tegas, sampai guru-guru yang sepertinya tidak serius dalam mengajar. 

Penilaian itu tentu muncul sesuai pengalaman yang saya alami saat pembelajaran di sekolah. Akan tetapi, soal kehidupan pribadi mereka jelas saya tidak berhak untuk menilai, selain guru-guru yang tinggal di sekitar saya.

Namun demikian, setelah saya lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan mendapat kesempatan selama beberapa bulan untuk membantu di bengkel praktik, saya berkesempatan untuk sedikit memotret kehidupan para guru tersebut. Dengan berubahnya status murid menjadi rekan kerja, mereka lebih terbuka dengan bercerita tentang tetek bengek dinamika kehidupan pribadi yang mereka alami.

Salah seorang guru yang waktu itu dekat dengan saya adalah Pak B. Ia berusia 45 tahun, masih guru honorer dan katanya tak mungkin menjadi guru PNS. Meski ia tak mengungkapkan alasannya secara rinci, namun saya menduga usia menjadi halangannya.

Menurut penuturannya, ia digaji berdasarkan jam mengajar. Jika tidak salah ingat untuk setiap jam pelajaran ia mendapatkan gaji 18 ribu rupiah (kurun waktu 2004-2008). Pak B termasuk guru honorer yang beruntung karena mendapatkan jam yang padat. Dalam seminggu setidaknya ia mengajar 4 hari penuh. Guru-guru yang lain yang memiliki jadwal lebih longgar terpaksa mencari sekolah lain yang membutuhkan jasanya dalam upaya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Ada kalanya mereka pun kekurangan biaya untuk menanggung biaya hidup seperti membayar uang sekolah anak-anaknya dan biaya rumah tangga lainnya. Oleh karena itu, hutang menghutang tidak lagi menjadi hal yang rahasia. 

Keluh kesah mengenai susahnya dalam mengarungi kehidupan pun sering saya dengar, seperti halnya dengan keluhan warga-warga di kampung saya. Oleh karenanya saya berkesimpulan bahwa dinamika kehidupan guru-guru saya tidak jauh berbeda dengan keluarga saya, keluarga petani.

Potret kehidupan guru-guru saya itu tak sekalipun nampak ketika saya menjadi murid. Saat mengajar, mereka tak sekalipun mereka meluapkan keluh kesah. Raut-raut masam tak terlihat dan digantikan dengan pribadi-pribadi yang menggelora menyemangati murid-muridnya untuk menggapai masa depan yang lebih cerah. Sungguh, hal ini menambah rasa kagum saya terhadap mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun