Sofa dan meja di ruang tamu, gordyn penutup jendela sudah terpasang rapi dan lemari pakaian serta ranjang sudah siap di kamar. Peralatan dapur juga sudah tertata lengkap. Aku harus bersyukur atas kemurahan mertuaku ini.
Begitu masuk rumah aku buka jendela. Pintu kamar dan pintu dapur pun aku buka pula. Biar udara segar masuk, pikirku.
Suamiku langsung duduk di sofa tanpa sepatah kata pun. Â Aku mengeluarkan barang-barang dari tas. Banyak juga hadiah pernikahan kami dari kenalan suamiku, pikirku. Semua aku tempatkan di lemari atau rak di dapur. Untuk sementara aku tidak perlu lagi membeli perabotan rumah tangga.
Aku tertegun ketika mendapat benda terakhir dari dalam tas, sebotol air kembang. Amanat ibu mertuaku disuruh menyiramkan ke seluruh penjuru rumah.Â
"Mas tolong siramkan ke seluruh sudut rumah kita," pintaku kepada suami.
Sebertulnya ini caraku biar tidak kelihatan kalau aku tidak percaya hal-hal seperti ini.
"Air apaan emangnya," tanya suamiku.
"Ibumu yang ngasih. Nggak tau," jawabku.
"Dari ibu? Ya udah sini," katanya sambil meraih botol dan segera mengitari sudut-sudut rumah sambil menyiramkan air kembang.
"Ada-ada saja," batinku.
                                **