Kawanan air papar terbakar di samudra, sebagian bercerai bersembunyi dalam gelap pori,..
Pori relung tanah hangus merekah, gundah tiada lagi sembunyi, air pun terseret uap ratapan,..
Ratapan hewan dan pepohonan, tiada guna memohon.. hanya pasrah berbalut gerah,..
Gerah berkawan debu, debu kembaran tisu.. halus menyeka terbawa angin,..
Angin hsteris berlari meronta, mengabarkan duka lara mengering..
-----
Mengering, layu meranggas,.. tiada sudi menggelar semi,.. kecuali awan..
Awan melawan terik, menatap menantang matahari..
Matahari jawara, tiada terlihat lelah.. tanpa sekalipun kalah,..
Kalah berlaku teruntuk awan..sekujur punggung hitam terbakar,..
Terbakar, semua tawa terbakar menyisakan hening,.. merindu sejuk dingin,..
-----
Dingin menghampiri, mengusap jelaga awan,..
Awan terharu menangis sekuat badai, melepas bermilyar bulir air..
Air melompat saling susul, terjun beriring deras tawa bisa kembali..
Kembali bertahta di pangku gunung berimpit celah bebatuan,.. bosan.. keluar turun berselancar..
berselancar mengiris lembah menjamah daratan, lelah tertumpah di muara..
-----
Muara tepi gerbang samudra, bersua yang lain berkumpul kembali..
Kembali pada pangkal cerita bermula, terbakar api kuasa-Nya..
------
          ttd
   Rekah Tanah
______________________________
sumber foto ilustrasi
Silahkan saja menukil atau meng-copy-paste tulisan ini, namun dengan kerendahan hati wajib menyertakan nama penulis/pengarang (Imam Muttaqin) berikut sumber/link tulisan ini. Maturnuwun.
Â
Â
Â
Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI