Mohon tunggu...
Fathan Muhammad Taufiq
Fathan Muhammad Taufiq Mohon Tunggu... Administrasi - PNS yang punya hobi menulis

Pengabdi petani di Dataran Tinggi Gayo, peminat bidang Pertanian, Ketahanan Pangan dan Agroklimatologi

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Tak Malu Bertanya, Akhirnya Bisa

18 Oktober 2017   14:02 Diperbarui: 18 Oktober 2017   14:05 546
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar 2, Dibalaik pakaian rapi yang selalu dikenakannya, Mukhlis adalah sosok yang selalu 'haus' ilmu (Doc. FMT)

Melihat ketulusannya itu, meski agak sedikit sungkat akhirnya saya mempersilahkannya untuk bergabung dengan 30 peserta diklat angkatan II tersebut.  Sambil 'melaksanakan tugas' menyajikan materi diklat, sesekali saya 'melirik' ke arah Mukhlis yang mengambil posisi duduk tak begitu jauh dari tempat saya berdiri. Terlihat dia sangat serius menyimak materi yang saya sampaikan, tak ketinggalan tangannya yang memegang ballpoint terus 'menari' diatas buku hariannya, mencatat point-point yang dianggapnya penting dari materi yang saya sajikan.

Tak puas hanya menyimak materi yang saya sampaikan di kelas, Mukhlispun masih 'mengejar' saya ketika waktu yang disediakan bagi saya habis. Tentu setelah melihat I'tikad baiknya, sayapun dengan senang hati melayani pertanyaan-pertanyaan yang dia layangkan seputar bagimana teknik 'meloloskan' tulisan ke media. Sekilas saya melihat, dia mencatat semua jawaban yang saya sampaikan, padahal saat itu sebenarnya bukan sedang menjawab pertanyaan=pertanyaaannya, tapi hanya sekedar sharing sedikit pengalaman saya 'bermain' di media selama ini. 

Disitulah aku bisa merasakan kalau dia benar-benar serius untuk 'menimba' pengalaman menulis dari saya. Tanpa menghiraukan latar pendikan formal saya yang hanya 'pas-pasan' ternyata penyandang gelar S-2 ini tanpa sungkan terus bertanya ini dan itu yang terkait dengan aktifitas menulis yang eksis saya jalani dalam beberapa tahun terakhir ini..

Seperti pada angkatan sebelumnya, jadwal saya untuk menyampaikan materi hanya satu hari lebih sedikit, dan setelahnya sayapun harus kembali untuk menjalankan aktifitas rutin di tempat sya bertugas di Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah. Namun 'rasa haus' Mukhlis belum terpuaskan dengan pertemuan singkat itu. Komunikasipun berlanjut melalui telepon dan WA, bahkan dia mengirimkan beberapa artikel yang sudah ditulisnya ke email saya. 

Dalam pengantar emailnya, dia meminta saya untuk mengkoreksi tulisannya, saya jadi serba salah menyikapinya. Tapi kembali kepada niat awal saya yang hanya ingin berbagi sedikit pengalaman menulis, akhirnya saya penuhi juga permintaannya. Saya sama sekali tidak 'mengganggu' apalagi mengkoreksi tulisannya, saya hanya memberikan catatan-catan kecil  yang mungkin bisa dijadikan masukan baginya untuk 'mempertajam' tulisannya supaya layak tampil di media. Tidak lupa saya menyelipkan pesan penyemangat bahwa tulisan yang dia buat sudah layak untuk 'naik' ke media.

Hasilnya, luar biasa, hanya beberapa hari sesudah itu, tulisan perdanyanya sudah mucul di sebuah media online. Ini yang membuat semangat menulisnya mulai timbul bahkan mulai terlihat 'menggebu'. Hanya dalam tempo kurang lebih sebulan, 16 artikel, sukses dia 'ekspor' ke berbagai media online. Bahkan belakangan  akhirnya sayapun tau, beberapa tulisan Mukhlis juga lolos di salah satu media cetak terbitan Jakarta, media yang juga sering memuat tulisan-tulisan saya. 

Mukhlis makin bersemangat setelah tau tentang hal ini, kerena kemudian saya juga mengirimkan print out dari tulisannya yang sudah terbit di media cetak itu, berkali-kali dia mayampaikan rasa terima kasihnya atas 'bimbingan' yang saya berikan selama ini. Saya hanya bisa tersenyum kecut, karena saya merasa tidak pernah memberikan bimbingan kepadanya, yang saya lakukan tidak lebih hanyalah sekedar sharing pengalaman semata. Kan tidak mungkin dan tidak logis kalu seorang lulusan SMA seperti saya dikatakan membimbing seorang Widya Iswara bertitel S-2.

Gambar 2, Dibalaik pakaian rapi yang selalu dikenakannya, Mukhlis adalah sosok yang selalu 'haus' ilmu (Doc. FMT)
Gambar 2, Dibalaik pakaian rapi yang selalu dikenakannya, Mukhlis adalah sosok yang selalu 'haus' ilmu (Doc. FMT)
Awal bulan Oktober 2017 lalu, kembali saya diminta untuk menyampaikan materi pada angkatan ketiga masih pada diklat yang sama dengan sebelumnya, hanya pesertanya saja yang berganti. Lagi-lagi Mukhlis yang mulai eksis menulis di media ingi, kepingin untuk kembali mengikuti materi saya, katanya untuk 'memperdalam' pengetahuan menulisnya. Saya sih wel come saja, apalgi setelah saya tau, dia benar-benar ingin menimba pengalaman dari saya, bukan untuk me'mata-matai' aktifitas saya mehyampaikan materi. Disela waktu istirahat, tidak lupa dia sedikit 'curhat' kepada saya.

"Alhamdulillah, berkat bimbingan bapak, dalam belum sampai dua bulan saya sudah bisa mengumpulkan 25 angka kredit dari menulis" begitu 'lapor'nya dengan raut bahagia dan sebuah kebanggaan jelas terpancar di matanya. Dia juga menyatakan masih menyimpan beberapa tulisan yang sudah terbit di media sebagai 'tabungan' untuk pengajuan angka kredit berikutnya.

Alhamdulillah, hanya itu yang bisa terucap dari mulutku, rasa syukur tak terhingga kupanjatkan kehadiratNya, ternyata kiprah seorang 'pegawai renul' yang tidak memiliki pendidikan tinggi dan tidak punya gelar akademis apapun ini, masih bisa memberi manfaat bagi orang lain. Bahkan bukan hanya kepada peserta diklat, tapi juga kepada seorang WI yang sejatinya levelnya adalah level pengajar pada balai diklat tersebut.

Sekelumit pengalaman itu akhirnya dapat memberikan sebuah pelajaran berharga bagi saya. 'Kalau ingin bisa, kita tidak boleh malu apalagi gengsi bertanya atau belajar dari siapapun', itulah pelajaran yang bisa aku petik dari pertemuanku dengan Mukhlis. Seorang Widya Iswara dengan segudang pengetahuan yang tidak malu-malu bertanya dan belajar kepada seseorang yang dari segi pendidikan formal sangat jauh dibawahnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun