ETOS KERJA DALAM PANDANGAN ISLAM
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, "Etos" berarti pandangan hidup yang khas dari suatu golongan sosial dan "Kerja" berarti kegiatan melakukan sesuatu (untuk mencari nafkah; mata pencaharian). Etos Kerja berarti semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok.
El-Qussy (1974), seorang pakar ilmu jiwa kebangsaan Mesir, mengatakan bahwa kerja adalah perbuatan yang berhubungan dengan mental yang mempunyai ciri kepentingan, yaitu untuk mencapai maksud atau mencapai tujuan tertentu.
Dapat dipahami bahwa Etos Kerja adalah sikap seseorang atau suatu bangsa yang sangat mendasar tentang cara melakukan suatu hal atau pekerjaan yang merupakan cerminan dari pandangan hidup diri sendiri untuk mencapai maksud atau tujuan tertentu dengan ciri khas yang berorientasi dari nilai-nilai ketuhanan (ilahiyah).
Bekerja dalam Etos Kerja dalam Islam yang benar adalah dengan mempunyai tujuan ganda, "Ukhrawi" yaitu ingin mendapat pahala mencari keridhaan Allah SWT karena bernilai ibadah dan duniawi dalam arti ingin mendapat imbalan materi berupa uang atau gaji, untuk menghidupi keluarganya (mata pencaharian). Bersifat materi barupa uang atau gaji yang setimpal, bukan berarti memperoleh imbalan materi berupa uang atau gaji yang sebanyak-banyaknya sehingga berujung dengan gaya hidup yang bersifat hedonism serta riya, pamer pada sesama manusia yang bisa menimbulkan sifat syirik dan berujung penipuan, mencuri, korupsi, dan lain-lain.
Banyak ayat dalam Al-Qur'an yang menganjurkan ummatnya untuk bekerja keras, dalam arti harus memiliki Etos Kerja tinggi. Diantaranya dalam Qur'an surat An-Nisa': 32, yaitu
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَا لِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗ وَسْئَـلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا
"Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
QS. An-Nisa' 4: Ayat 32 berisi penjelasan tentang semangat para sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam di dalam beramal dan bekerja dengan didasari keimanan, sehingga menghasilkan semnagat beramal atau bekerja dengan jujur dan amanah karena merasa selalu diawasi oleh Allah SWT.
Bekerja keras yang dibersamai dengan berzikir dan berdoa menjadi ciri khas Etos Kerja seorang muslim yang jika terealisasikan dalam kehidupan seorang muslim, maka dapat menghasilkan rezeki yang Insya Allah halal dan akan berkah dunia dan akhirat.
Islam mengajarkan bahwa bekerja adalah bagian cara menghadapi kehidupan dan bertahan hidup dari kehidupan seorang Muslim.
Kerja Cerdas, Kerja Keras, Kerja Ikhlas.
Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah mencintai seorang mukmin yang bekerja keras." (HR. Tirmidzi).
Tidak hanya sebagai mata pencaharian, bekerja juga sarana untuk sejahtera di hadapan masyarakat dan mendapatkan ridha dari Allah SWT.
Seorang yang matang spiritualnya dalam menghadapi pekerjaan, ada beberapa prinsip yang dimiliki di antaranya;
- Berorientasi akhirat, yaitu menetapkan sasaran pencapaian hasil kerja adalah hassanah fiddunnya dan hasanah fil akhirah (QS. al-Baqarah 1: Ayat 201)
- Bekerja, beraktivitas, dan beramal lillah yaitu seluruh aktivitasnya dilakukan sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah SWT (QS. Saba 34: Ayat 13)
- Berkarakter al qowi yaitu memiliki reliability, dapat diandalkan dan juga memiliki kekuatan fisik dan mental (emosional intelektual dan spiritual) (QS al-Qasas 28: Ayat 26)
- Berkarakter al amiin yaitu memiliki integritas jujur dan dapat memegang amanah (QS al-Qasas 28: Ayat 26)
Dengan prinsip-prinsip Etos Kerja dalam Islam akan dicapainya pelaksanaan dari pekerjaan yang diberikan atas dasar kemahiran, pengalaman, dan kesungguhan diri sendiri. Prestasi kerja dalam membangun modal atas orang yang memiliki Etos Kerja dalam Islam memberi hasil positif kepada;
- Menyucikan jiwa seseorang (tazkiyah al-nafs)
- Menerapkan nilai-nilai Islam (al-ta'dib)
- Memahami falsafah mengesakan dan kebesaran Allah (altawhidal- uluhiyyah dan al-rububiyyah) dan konsep bekerja sebagai diri sendiri maupun sekelompok.
- Penyerahan sepenuhnya kepada Allah (bekerja sekaligus ibadah) dan cara untuk bertahan hidup di dunia.
Apabila tujuan pengembangan modal manusia seperti di atas benar-benar dipraktikkan, maka prestasi kerja akan dicapainya dengan Insya Allah mudahnya.
Nilai-nilai prestasi dalam kerja dapat berupa;
- Kualitas Kerja, keefektifan dari cara bekerja sehingga hasil yang diberikan efisien dalam mencapai tujuan.
- Kuantitas Kerja, dengan tempo waktu yang sesingkat-singkatnya dan sesuai Batasan dengan hasil yang maksimal
- Kestabilan dan ketekunan dalam bekerja
- Sikap yang dimiliki dan kemudian diterapkan ketika bekerja sama dengan pimpinan dan juga antar rekan pekerja lainnya.
Idealnya, Etos Kerja yang baik disertai sikap positif menjadi motivasi yang akan menggerakkan seseorang dalam bekerja keras dengan baik. Karena berasal dari dalam diri, memiliki Etos Kerja menjadi cerminan kualitas diri seseorang, karena tiap orang memiliki Etos Kerja yang berbeda-beda. Semakin besar Etos Kerja seseorang, tentu akan membawa dampak lebih positif terhadap orang atau sekelompok tertentu.
Soft skill,hard skill, bakat, dan kecerdasan belum cukup dalam dunia bekerja dan harus didukung dengan tekad untuk mau meningkatkan Etos Kerja agar tidak tertinggal oleh orang lain dan memacu diri untuk terus memutar otak agar menjadi lebih dari orang lain dengan semangat Etos Kerja yang dimiliki.
Dengan cara mengimplementasikannya tekun dan konsisten yang memerlukan adanya komitmen kuat dalam pelaksanaannya sehari-hari, seorang muslim yang bertekad untuk menguatkan kualitas dalam Etos Kerja tiap aktivitasnya akan menjadikan sebuah pekerjaan yang juga sekaligus ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Jika terus-menerus diterapkan, selain diri sendiri, orang di sekitar akan merasakan positifnya dari Etos Kerja yang dihasilkan. Keberkahan akan terpelihara diiringi perkembangan dari Etos Kerja dalam Islam, dalam bekerja dan menjadikan sarana mencapai kebahagiaan di dunia maupun akhirat.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI