" iya" katanya
Sepanjang perjalanan dari bandara ke rumah mbah Murti tak terasa, suasana kaku hilang seketika, pakde Didi pandai mencaikan suasana.
Singkat ceritannya hari-hari baru di Jakarta, yang semula kupikir tidak terlalu nyaman, karena jauh dari kakek dan nenek terhapus dengan kebaikan dan perhatian dari  pakde Didi.
" Lina.... kamu ndak usah ikut Bimbel, pakdemu pasti bisa mengajarkan, wong dia alumni dari sana "
" kamu sanggup kan Di, ngajarkan si Lina? " ujar mbah Murti ke pakde DIdi, dan dijawab dengan anggukan setuju.
***
Hari-hari di Jakarta, terasa indah dan tidak membosankan, setiap senja kami mengphabiskan waktu untuk mengulik-ngulik soal yang pernah ada,sebagai bahan latiahan untukku.
Tak terasa, ada getar-getaran, aneh yang merasuk dalam sukmaku, tetapi aku berusaha menghapus, aku menyakinkan diriku, kalau pakde tak pantas untukku, pakde, titik
Di suatu senja
"Lina.....pakde memegang tangan dan menatapku
"Aku .... aku ...." pakde memelukku