Salah satu bentuk pendidikan humanisme adalah pendidikan terbuka (open education), yaitu metode pendidikan yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk bergerak bebas dan memilih kegiatan belajarnya sendiri. Tugas guru hanya sebagai fasilitator dan pembimbing. Humanisme menekankan manusia sebagai standar tertinggi yang dengannya semua hal lain harus dinilai.
Praktik pedagogi humanis menekankan otonomi siswa dalam menentukan bagaimana dan mengapa para siswa mempelajari informasi baru. Filosofi humanistik berpendapat bahwa tujuan akhir pendidikan adalah untuk membantu siswa menjadi orang yang lebih baik. Ketika siswa telah memperoleh wawasan tentang lingkungan dan identitasnya, proses pembelajaran telah berhasil. Ketika mereka maju melalui belajar di sekolah, siswa harus mendorong diri mereka sendiri ke batas potensi mereka untuk mengaktualisasikan potensi penuh mereka semaksimal mungkin.
Jadi, menurut pandangan filsafat humanisme, bahwa tanggung jawab belajar ada pada diri siswa itu sendiri. Bagaimana mereka menentukan cara belajar, sumber belajar, bahkan tujuan belajar mereka masing masing. Maka, peran guru adalah membimbing siswa dalam mengembangkan kebiasaan belajar yang efektif yang memungkinkan mereka menguasai materi yang ada.
2. Konstruktivisme
Ideologi konstruktivisme dalam pendidikan berpendapat bahwa pemahaman unik setiap orang tentang dunia adalah produk pemikiran aktif yang difasilitasi oleh proses pembelajaran berdasarkan pengalaman (Hein, 1991; Boghossian, 2006). Sebagai aliran pemikiran, konstruktivisme memandang pengetahuan sebagai sesuatu yang diciptakan manusia untuk dirinya sendiri. Orang belajar melalui pengalaman dan interaksi mereka dengan dunia di sekitar mereka.Â
Pembelajaran generatif, atau pembelajaran berbasis proses menghasilkan makna baru berdasarkan pengetahuan yang diperoleh, mencirikan pendekatan konstruktivis terhadap pendidikan. Alih-alih berfokus pada hasil (hasil belajar) akhir pendidikan, perspektif konstruktivis lebih menghargai proses pembelajaran itu sendiri.
Fokus dari konsep ini adalah pada proses belajar siswa bukan pada guru. Guru berperan sebagai fasilitator di dalam kelas. Guru memiliki tanggung jawab untuk membuat siswa mereka tertarik dan terlibat dalam proses pembelajaran.Â
Diantara langkah yang mesti dilakukan oleh guru adalah mengembangkan stimulan inquiry (merangsang keingintahuan) siswa pada setiap materi pembelajaran. Tugas guru adalah membuat proyek pembelajaran yang mendorong eksplorasi semua bidang studi. Memotivasi anak-anak untuk berpikir kritis tentang suatu topik dengan mengajukan pertanyaan kepada guru atau bahkan memberi kesempatan kepada siswa lain untuk menjawabnya.Â
Maka, para guru hendaknya aktif bergabung dengan kelompok belajar guru (teacher's learning community) bukan hanya MGMP yang selama ini tidak berdaya, atau buatlah sendiri komunitas belajar yang di dalamnya para guru yang saling berbagi tentang pengalaman mengajarnya.
3. Progresivisme