Di sinilah panggung politik mempunyai kesamaan dengan layar lebar film Hollywood. Bagai panggung cerita, masing - masing mempunyai peran dalam alur cerita. Ada tokoh utama, figuran, tokoh baik dan sang bintang antagonis atau penjahat.Â
Seperti skenario film Hollywood, sang tokoh baik pun tidak senantiasa menang, bahkan seringkali dibully, dihina dan dipojokkan. Pemeran antagonis justru kadang - kadang berada di atas angin dan seperti tidak terkalahkan.
Biasanya dalam film Hollywood juga sang penjahat akan berkata pada saat tokoh baik yang sedang terpojok, "Kamu tahu, mengapa orang jahat seperti saya bisa menang? Kamu orang baik selalu tunduk pada hukum dan punya hati nurani, sedangkan hati nurani saya sudah mati sehingga saya tega melakukan apa saja."
Ya, dalam hal politik pun demikian. Seringkali politikus yang sungguh mau memperjuangkan kebaikan dikalahkan oleh politikus kotor dan busuk justru karena mereka menggunakan segala cara untuk mendulang suara. Sebut saja misalnya: politik uang, fitnah, berita bohong atau hoax, janji palsu, kampanye hitam.
Bagai film, kita yang menyaksikan juga seperti diaduk - aduk rasa : jengkel, marah jika jagoan kita kalah dan tertawa gembira pada saat sang tokoh berada di atas angin.
Apakah semua orang mendukung tokoh baik? Tidak juga. Tetap ada mereka yang mengidolakan sang penjahat dan tokoh antagonis. Mengapa? Ini memang terkadang di luar logika.
Hollywood dan Pilpres
Saat ini sedang ada ada perhelatan politik besar di Indonesia yakni Pemilu dan Pilpres. Sebagai peristiwa politik tentu persamaan antara film Hollywood dan politik di atas bisa juga diterapkan.Â
Masing - masing kita pasti bisa menilai masing - peran dalam panggung Pemilu dan Pilpres itu. Siapa yang berperan sebagai tokoh baik, siapa sang penjahat dan hanya sekedar figuran.
Setiap orang juga pasti sudah punya tokoh idola, entah tokoh baik atau bintang antagonis atau pemeran sang jahat.
Memang tidak ada yang memaksa kita untuk berada di pihak mana. Tetapi, kalau kita kembali pada arti hakiki dari politik yakni untuk mencapai Bonum Comune atau kebaikan dan kesejahteraan, tentu kita memihak dan mendukung secara obyektif dengan logika dan hati nurani. Bukan sekedar kepentingan egoisme, sesaat dan sempit.Â