Mohon tunggu...
Marisa Rayhani
Marisa Rayhani Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Cukup Hidup Sebagai Manusia Maka Siapapun Berpotensi Memperbaiki Dunia

5 Mei 2019   11:12 Diperbarui: 5 Mei 2019   12:08 297
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar 4 Motivation and Personality Theory, Maslow (1987) Sumber: www.simplypsychology.org (diakses 23 April 2019)

Tidak hanya bayi yang terlahir sebagai manusia baru, ayah ibu juga terlahir sebagai orang tua sehingga butuh belajar agar dapat membimbing dengan ilmu sembari mencontohkan keteladanan. Interaksi awal bayi manusia adalah saling belajar dengan ayah ibunya untuk memenuhi kebutuhan fisiologis sehingga tumbuh dan dapat mengembangkan kemampuan yang ALLAH berikan. 

Selain dengan ayah ibu, bayi belajar hal baru maupun mempelajari ulang hal yang belum mumpuni kepada anggota keluarga lain dalam rumah tangga. Seiring bertambah usia, kesempatan pembelajaran tersebar dalam lingkungan bermasyarakat, pendidikan, serta pekerjaannya kelak.

Pikirnya bahwa ilmu dan amal yang diekstrak dari proses pembelajaran merupakan siklus berkelanjutan pada hidup karena diri, tahapan usia, kebutuhan, peran, serta interaksi manusia bertambah luas. Manusia melakukan interaksi intrapersonal ketika berdiskusi dengan pikiran dan perasaanya. Selanjutnya interaksi dengan Tuhannya dalam keimanan dan sikap-sikap perwujudan takwa. Interaksi dengan sesama manusia dan makhluk lain di alam semesta terjadi karena manusia sebagai individu yang senantiasa tumbuh dan berkembang memenuhi kebutuhan hidupnya dalam lingkungan keluarga atau rumah tangga kemudian orang atau kelompok orang.

Gambar 3 Ilustrasi Siklus Ilmu dan Amal Sumber: www.coaching2empower.co.uk (diakses 2 Mei 2019)
Gambar 3 Ilustrasi Siklus Ilmu dan Amal Sumber: www.coaching2empower.co.uk (diakses 2 Mei 2019)
Memulai kehidupan

Seseorang itu menyadari bahwa ilmu dan amal diawali dengan baik ketika manusia mengenali dirinya, Tuhan, dan lingkungan untuk menjalankan peran khalifah dalam kehidupan selama di dunia. Kenal berarti mengerti; mempunyai pengetahuan tentang sesuatu (Kamus Besar Bahasa Indonesia - KBBI). Hal tersebut dilakukan dengan pemeriksaan yang berarti melihat dan menyelidiki dengan teliti (KBBI). Sebaiknya tindakan mengenali diikuti dengan memahami makna hasil pemeriksaan, mempelajari, mengamalkan hal baiknya, memeriksa hasil pengamalan, kemudian berulang mempelajari hal yang lebih baik lagi. Maka, proses mengenali menjadi siklus upaya menjalani hidup dengan sadar bermodalkan ilmu dan amal sesuai anugerah hakikat diri dan kehidupan dari Sang Pencipta. Siklus yang dilakukan berkelanjutan akan menumbuhkan perilaku benar sebagai penanda perubahan menuju hal lebih baik.

Mulai dari mengenali diri dengan pemeriksaan tubuh, akal, dan jiwa lalu memaknai hasil dan memperbaikinya. Dengan ilmu mencari tahu dan mengerti kemudian dengan amal memperbaiki menjadi lebih baik. Mulai dari mengetahui dan mengerti hal-hal dasar tentang diri, seperti pemeriksaan antropometri, kondisi darah meliputi golongan, tekanan, kadar kolesterol, organ-organ vital dan fungsinya, kepribadian, bakat, kemampuan, serta lainnya. 

Selanjutnya mengetahui lingkungan mulai dari yang terdekat pada anggota keluarga dalam rumah tangga kemudian lingkungan keseharian termasuk kondisi tempat tinggal dan beraktivitas. Dengan mengerti hal tersebut, dapat menjadi pertimbangan dalam memilih dan menentukan langkah jangka pendek hingga panjang (misal pilihan metode pendidikan dan jenis pekerjaan) serta cara-cara menghadapi berbagai tantangannya.

Selama di dunia, manusia mempertahankan hidupnya dari mati, cacat, atau sakit yang berarti bahwa menjadi sehat. Oleh karenanya, manusia menetapkan target lalu menjadi kegiatan pada keseharian mengisi masa hidupnya di dunia. Sesuai pula dengan teori Maslow (1987) tentang Motivasi dan Kepribadian.

Gambar 4 Motivation and Personality Theory, Maslow (1987) Sumber: www.simplypsychology.org (diakses 23 April 2019)
Gambar 4 Motivation and Personality Theory, Maslow (1987) Sumber: www.simplypsychology.org (diakses 23 April 2019)
Pemikiran dan penemuan Abraham Maslow berdasarkan penelitian dan pengalamannya di bidang klinis masih relevan menjelaskan kebutuhan dasar manusia. Maslow dalam bukunya Motivation and Personality (1987) mengungkapkan tentang Teori Kebutuhan Dasar. 

Teori tersebut menjelaskan lima tingkatan kebutuhan dalam bagan berbentuk piramida yang diduga menjadi alasan sikap dan dorongan perilaku manusia. Kebutuhan paling mendasar adalah kebutuhan fisiologis yang disinyalir sebagai penentu bagi pemenuhan kebutuhan tingkat berikutnya. Pada puncak piramida terdapat kebutuhan aktualisasi diri.

Seseorang itu berpikir bahwa kebutuhan manusia pasti tidak ada habisnya. Namun dengan mengenali diri dan ketentuan yang benar, manusia akan mampu fokus membuat berbagai pilihan yang benar. Kini, dia membayangkan kehidupan yang diharapkan. Pada setiap hari, ia ingin mengawali dari hal terdalam pada dirinya yaitu meresapi kesempatan hidup sebagai ciptaan ALLAH. Buka mata, sejenak bernafas dengan damai disertai syukur bahagia, memasang niat baik dan berdoa, memberi hak tubuh dan jiwa dengan ibadah - bersih diri - asupan awal hari sebagai modal menyelesaikan setiap 24 jam. Kegiatan tersebut akan memberinya keyakinan, kesadaran, kekuatan yang akan disertai fokus, sabar, dan ikhlas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun