Dewi sering bertanya, "Ibu, kenapa kita tidak pernah pergi ke kota seperti keluarga lainnya?"
Rahayu hanya tersenyum sambil menjawab, "Suatu hari nanti, Nak. Ketika ibu sudah cukup uang, kita akan melihat kota bersama-sama."
Namun, dalam hati, ia tahu itu hanyalah angan-angan. Bagaimana mungkin ia bisa membawa anak-anaknya ke kota jika untuk makan saja ia harus berjuang mati-matian?
Rahayu selalu merasa bersalah ketika anak-anaknya meminta sesuatu yang tidak bisa ia berikan. Pernah suatu ketika Dewi ingin sepatu baru untuk sekolah, tetapi Rahayu hanya mampu membelikan sandal jepit. Dewi tidak pernah marah, tetapi Rahayu tahu betapa kecewanya anaknya.
Musim hujan tiba, dan ladang teh menjadi berlumpur. Pekerjaan Rahayu semakin berat. Ia harus bekerja lebih lambat agar tidak terpeleset, tetapi itu berarti jumlah daun teh yang ia petik berkurang. Upahnya semakin sedikit, sementara kebutuhan hidup terus bertambah.
Suatu malam, Bayu tiba-tiba demam tinggi. Tubuhnya menggigil, dan wajahnya pucat. Rahayu panik. Ia tidak punya uang untuk membawa anaknya ke dokter, jadi ia hanya bisa memberinya air hangat dan mengompres keningnya.
Malam itu, Rahayu tidak tidur. Ia duduk di samping Bayu, memanjatkan doa agar anaknya segera sembuh. "Tuhan, jangan ambil anakku. Jika harus ada yang sakit, biarlah itu aku," bisiknya dalam tangis.
Keesokan paginya, demam Bayu mulai reda. Namun, perasaan takut itu masih membekas di hati Rahayu. Ia tahu, ia harus bekerja lebih keras agar anak-anaknya tidak kekurangan.
Suatu hari, seorang pengusaha teh bernama Pak Hadi datang ke perkebunan. Ia memperhatikan Rahayu yang bekerja dengan tekun meskipun hujan turun deras. Kagum dengan semangatnya, Pak Hadi menghampirinya.
"Ibu, apakah Anda pernah berpikir untuk membuka usaha sendiri?" tanya Pak Hadi.
Rahayu tertawa kecil. "Saya tidak punya modal, Pak. Semua uang yang saya dapat hanya cukup untuk makan dan sekolah anak-anak saya."