Media baru merupakan jenis media yang menggunakan teknologi digital. McQuail dalam Romeltea (2019) menjelaskan bahwa media baru merupakan tempat pesan-pesan komunikasi dapat dengan mudah untuk disalurkan menggunakan teknologi internet dan melibatkan audiens untuk meningkatkan proses interaksi dan komunikasi.
Jika dalam media lama, informasi selalu terlambat, maka dalam media baru informasi selalu cepat. Audiens dapat dengan mudah mengetahui informasi yang sedang terjadi saat itu juga.
Informasi yang disampaikan di media baru tidak secara berkala seperti media lama. Dalam media baru, selalu ada informasi-informasi up to date yang dapat hadir setiap jamnya.
Selain itu, umpan balik yang diperikan juga dapat secara langsung. Audiens dapat membagikan atau memberikan komentar terhadap informasi yang mereka dapatkan secara langsung.
Dalam media baru, faktor produksi dan distribusi tidak lagi terbatas pada ruang dan waktu. Hal ini dikarenakan media baru dapat memberikan dan menyebarkan informasi dalam jumlah yang banyak ke mana pun pada waktu yang sama.
Sedangkan pada faktor penerima informasi (audiens) dapat menerima banyak pilihan informasi sehingga dituntut untuk memilih informasi secara hati-hati dan berdasarkan kebutuhan.
Konsekuensi Perkembangan Media Bagi Jurnalis
Perkembangan dari media lama ke media baru membuat bentuk informasi yang audiens dapatkan juga ikut berubah. Tak hanya itu, pola perilaku jurnalis pun juga ikut berubah sehingka kita kenal dengan jurnalis online atau jurnalis multimedia atau jurnalisme digital.
Hamna (2018) menjelaskan perkembangan media membuat jurnalis dituntut untuk lebih cepat mendapatkan dan mengirinkan informasi kepada audiens. Artinya, para jurnalis online harus terus-menerus memperbarui informasi yang mereka sebarkan seiring dengan temuan-temuan baru yang mereka dapatkan di lapangan.