Mohon tunggu...
Manahan Sinaga
Manahan Sinaga Mohon Tunggu... Akuntan - Chartered Accountant dengan pendidikan sekolah hukum.

Berkarya dengan hati jujur & tulus saja, rejeki tidak akan tertukar. Semoga setiap tulisan yang tersaji memberi manfaat bagi sahabat pembaca.

Selanjutnya

Tutup

Financial

Audit Siklus Perolehan Aset Tetap

27 Agustus 2024   23:11 Diperbarui: 1 September 2024   09:57 121
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tulisan ini disusun agar teman-teman dapat memperoleh gambaran sederhana mengenai siklus perolehan aset tetap. Siklus perolehan aset tetap merupakan rangkaian transaksi terkait perolehan aset perusahaan. Perolehan dapat mencakup bahan perlengkapan produksi ataupun aset tetap lainnya (kendaraan, bangunan, dsb). Tulisan ini juga membahas  secara sederhana proses audit untuk akun-akun tertentu yang ada dalam siklus tsb. 

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)  No 16 menjelaskan bahwa aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk disewakan kepada pihak lain atau untuk tujuan administrasi yang digunakan untuk masa lebih dari satu periode. 

Aset tetap terdiri dari tanah, bangunan, mesin, kendaraan, peralatan dan aset tetap lainnya yang memenuhi kriteria yaitu :

  • Aset tetap yang diharapkan memiliki umur lebih dari satu tahun,
  • Digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan,
  • Tidak diperoleh untuk dijual kembali.

Akun terkait dengan aset tetap berdasarkan kelompoknya adalah sbb:

  • Akun-akun dalam neraca (laporan posisi keuangan), mencakup: Tanah, Gedung, Kendaraan, Perlengkapan Kantor, Mesin-mesin, Persekot Asuransi Aset Tetap, Utang Jangka Panjang, Utang Leasing, Utang Bunga (atas pinjaman perolehan aset tetap), serta akun-akun lain yang berkaitan erat dengan aset tetap, termasuk akun Akumulasi Depresiasi.
  • Akun-akun dalam laporan laba-rugi, mencakup: Beban Depresiasi, Beban Reparasi dan Pemeliharaan, Beban Bunga (atas pinjaman perolehan aset tetap), Beban Asuransi Aset tetap, Revaluasi Aset Tetap, Penurunan Nilai Aset Tetap, dan beban-beban lain yang berhubungan dengan aset tetap.

Hal-hal yang perlu diperhatikan terkait akun-akun aset tetap kurang lebih sebagai berikut:

1. Transaksi perolehan aset tetap umumnya memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Jumlah unit yang dibeli sedikit,
  • Setiap perolehan peralatan dan aset tetap lainnya nilai rupiahnya cenderung besar, dan
  • Catatan tentang aset tetap akan disimpan dalam catatan akuntansi selama beberapa tahun.

2. Masa manfaat ekonominya lebih dari satu tahun, memerlukan akun biaya depresiasi dan akumulasi depresiasi.

3. Aset tetap dapat dihentikan penggunaannya dengan cara dijual, ditukar dan dibuang sehingga dapat menimbulkan laba-rugi penjualan aset tetap.

Proses audit adalah sistem yang dirancang untuk mengendalian proses bisnis, untuk mencegah potensi terjadinya kesalahan (error), kecurangan (fraud) dan pemborosan (inefisiensi). Pengembangan program audit berisi serangkaian prosedur untuk memperoleh bukti audit. Program Audit dan tindakannya , secara singkat dapat kita uraikan sbb.

1. Menyusun daftar aset tetap dan akumulasi depresiasi yang mencakup saldo awal, tambahan, penjualan (jika ada), dan saldo akhir.

  • Periksalah kebenaran penjumlahan.
  • Telusur saldo awal ke saldo akhir pada periode sebelumnya.
  • Telusur saldo akhir ke neraca.
  • Telusur saldo-saldo individual ke kartu aset tetap.

2. Periksa penambahan aset tetap.

  • Lakukan vouching (prosedur audit yang dilakukan untuk memeriksa kebenaran atau kepastian bukti fisik berupa dokumen yang mendukung suatu transaksi ) terhadap faktur dan dokumen pendukung lainnya.
  • Memastikan semua penambahan aset tetap telah mendapat persetujuan dari pejabat yang berwenang.
  • Memastikan penambahan aset tetap telah diklasifikasikan dengan benar. Periksa kemungkinan adanya kesalahan klasifikasi terhadap beban reparasi dan pemeliharaan.
  • Jika memungkinkan, lakukan inspeksi terhadap semua tambahan aset tetap dengan kondisi fisiknya.
  • Memastikan semua komponen harga perolehan  (potongan, beban angkut pengiriman, beban pemasangan, dsb) telah termasuk dalam harga perolehan aset tetap.

3. Periksa penjualan aset tetap (jika ada)

  • Lakukan vouching terhadap bukti memorial dan dokumen pendukung lainnya, hitung nilai buku, dan hitung laba atau rugi berasal dari penjualan aset tetap.
  • Telusur laba atau rugi penjualan aset tetap ke rekening yang bersangkutan.
  • Periksa otorisasi penjualan aset tetap telusur ke kutipan rapat dewan komisaris.
  • Telusur penerimaan kas/ bank dari hasil penjualan.

4. Lakukan analisis terhadap beban reparasi dan pemeliharaan

  • Tentukan apakah terdapat beban reparasi dan pemeliharaan yang seharusnya dikapitalisasi.

Dokumen transaksi perolehan aset tetap mencakup:

  • Dokumen rencana pengadaan aset tetap yang telah diotorisasi.
  • Dokumen anggaran pengadaan dan pemeliharaan aset tetap yang telah diotorisasi.
  • Dokumen tender dan kontrak pengadaan aset tetap.
  • Dokumen serah terima aset tetap.
  • Faktur pembelian aset tetap.
  • Bukti pengeluaran kas untuk aset tetap.
  • Bukti kepemilikan aset tetap.

Dokumen pencatatan bisa dalam bentuk manual atau dalam bentuk elektronik (input system), namun demikian kedua bentuk dokumen tetap terdiri dari dokumen sebagai berikut:

  • Jurnal atau register
  • Buku pembantu atau master file
  • Buku besar
  • Daftar aset tetap
  • Laporan manajerial tentang aset tetap.

Dokumen transaksi dan dokumen pencatatan diatas sangat bisa berbeda untuk masing masing perusahaan, ditentukan oleh kebijakan akuntansi dan kebijakan aset yang diterapkan oleh masing-masing perusahan.

Dalam audit laporan keuangan khususnya aset tetap dipengaruhi oleh Materialitas. Materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi, yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya, dapat mengakibatkan perubahan atau pengaruh terhadap pertimbangan dalam meletakan kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena adanya penghilangan atau salah saji tersebut.

Ukuran materialitas salah saji dipengaruhi oleh kesimpulan auditor terhadap kecukupan data dan efektifitas proses audit. Jika tata kelolah perusahaan dilakukan dengan baik dan benar, potensi salah saji akan kecil, kebutuhan bukti audit menjadi relatif rendah, begitu sebaliknya. Tindakan terhadap temuan salah saji secara sederhana dapat diuraiakan sbb:

  • Jika temuan salah saji dipandang tidak material, disarankan membuat usulan pembetulan, baik melalui usulan jurnal penyesuaian maupun melalui usulan tambahan pengungkapan, tergantung pada jenis kesalahan yang ditemukan.
  • Jika temuan salah saji dipandang material, sebaiknya mengumpulkan dan menguji bukti tambahan untuk mendapatkan keyakinan tentang kewajarannya.
  • Mengkomunikasikan secara tepat waktu atas semua kesalahan penyajian kepada tingkat manajemen. Hal ini dianggap penting karena memungkinkan manajemen mengevaluasi apakah unsur tersebut adalah kesalahan penyajian, menginformasikan balik , dan mengambil tindakan yang diperlukan.

Tata kelola yang baik dan benar dengan disertai pengawasan dalam pengelolaannya diharapkan dapat meningkatkan produktifitas  perusahaan denga tetap menjaga efisiensi-nya.  

Author : Manahan Sinaga SE, SH, Msi, Ak, CA.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun