Mohon tunggu...
MamikSriSupadmi
MamikSriSupadmi Mohon Tunggu... Wiraswasta - Wiraswasta

Anggota Bank Sampah Desa. Anggota Fatayat Muslimat NU Ranting

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tarian Bondan Payung dan Boneka "Dewi Sri"

11 Januari 2022   20:57 Diperbarui: 11 Januari 2022   21:20 496
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Boneka pada dasarnya adalah mainan yang disukai oleh anak anak terutama anak perempuan.  Bahkan boneka mahal berkelas yaitu Barbie dan Ken yang terkenal itu, termasuk produk mainan yang saya pernah membeli model tiruan sejenis yang hampir mirip. Boneka termasuk jenis mainan yang mengasah imajinasi tinggi. 

Bagaimana tidak, karena kreatif mendandani, berbicara seolah olah ada interaksi komunikasi, dan menyutradarai seperti mengarahkan kumpulan boneka sedang melakukan aktivitas / kegiatan memerlukan skill tangan dan mulut yang berbicara menyampaikan isi imajinasi dikepala. 

Tetapi yang paling menarik tentu saja apabila cerita tentang boneka ini ada kaitannya dengan sejarah kehidupan manusia. Pernah mendengar tentang Tarian Bondan Boneka?

Bulik saya kebetulan mengampu Guru Seni Budaya dan Bahasa Daerah di debuah sekolah menengah pertama negeri. Selain punya sanggar tari dirumahnya, Beliau juga punya usaha jasa penyewaan baju karnaval, baju adat daerah dan juga baju tokoh tokoh pewayangan.  Paling senang melihat koleksinya yang warna warni dan berjibun. 

Baju dan topi tarian Merak yang meriah semarak, aneka blangkon model tutup kepala, topeng Punokawan maupun topeng pasukan Buto Burisrowo yang sangar dan berangasan.  Semua setelan pakaian dan aneka aksesoris seni budaya dan perwayangan ini seolah olah bisa bercerita.Hehe , jangan seram ya.

Kembali ke tarian Bondan Payung. Penggunaan boneka termasuk alat utama yang bercerita dari tarian ini. Alat lainnya sebagai pendukung cerita adalah payung yang terbuka selama menari dan Kendi yang sesi terakhir dari tarian akan dinaiki penari secara berputar. Tarian yang sejarahnya sudah tercipta sejak zaman Mataram dan populer di kraton Surakarta ini menceritakan tentang bagaimana seorang ibu seharusnya mendidik dan mengasuh buah hatinya. 

Ada adab dan tuntunan tentang kasih sayang yang tulus sepanjang jalan, sepanjang zaman, mengajarkan budi pekerti agar buah hati menjadi manusia berbakti dan paham adat istiadat menempatkan diri pada sesama sebagai makhluk Bumi. 

Boneka akan diambil dan digendong dengan penuh kehangatan, bermanja manja ketika menari. Payung yang terbuka kemudian dimainkan sebagai simbol perlindungan, pengayoman dan tempat ilmu pengetahuan dipancarkan.  Lembut, rancak riang penuh irama ditarikan dengan gemulai oleh penari. 

Layaknya ibunda mencintai, mendidik sambil bercanda riang dan sang boneka tetap aman nyaman dalam gendongan. Nuansa seolah olah magis yang ditunggu adalah ketika penari menaiki Kendi dan menari sambil berputar dan tetap menggendong boneka bayi yang dipayungi. Setelah beberapa putaran dan jeda, kendi yang dinaiki ini akan pecah.  

Magis terasa karena apabila penarinya lebih dari satu , aura pecah Kendi ini bisa kompak bersamaan dalam waktu hentakan dan irama tertentu.  Pecah kendi dengan timing hentakan irama yang pas inilah sebagai pertanda tarian akan berakhir. Boneka dalam gondengan tetap aman dalam pengayoman payung yang terbuka.

Menurut cerita, boneka yang digedong dalam gendongan dengan pengayoman payung ini adalah simbol yang menceritakan Dewi Sri sebagai pembawa kesejahteraan manusia. 

Tercipta karena tuah telur Naga menjadi titisan istimewa. Dipelihara oleh Sang Bondan dan selalu dilindungi dari Batara Kala yang bermaksud memberikan musibah dan balak pada manusia. 

Batara Kala selalu ingin memakan DewiSri sebagai simbol kesuburan pertanian, maka Sang Bondan melebur dirinya menjadi rumput rumput pelindung agar Sang Kala lebih suka memakan dan memusnahkan rumput terlebih dahulu sampai akhirnya DewiSri sampai pada musim panen, musim anugerah yang luar biasa. Sang Bondan adalah kendi yang pecah. Walaupun pecah tetapi DewiSri selalu aman dalam pengayoman perlindungan Payung penari.

Hikmahnya adalah, kita perlu sadar siapa yang sudah banyak berkorban baik jiwa dan raga agar kita tetap terus melangkah untuk menuju masa depan. Atau barangkali mereka pasukan patriot bangsa yang rela berjuang untuk melindungi tanah air dan pemimpinnya. Agar terus bisa memimpin komando dan rakyat aman terjaga. 

Renungkan dan sadari,banyak orang yang rela berjuang dan berkorban disekitar kita. Siapa yang pertama rela berkorban untuk diri kita? Ibunda tentu saja. 

Sayangi dengan tulus dan sirami dengan doa. Boneka dalam Tarian Bondan tentu dianggap aura jiwa yang berharga ketika memainkan tariannya, karena semua ingin melindunginya dengan harapan banyak orang yang selamat, sehat, bahagia dan berlimpah sejahtera. Demikian review sederhana saya memaknai Tarian Boneka Payung Bondan penuh simbol dan makna warisan budaya.

     

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun