"Father hunger" bisa terjadi pada anak dengan ayah yang hadir secara fisik, namun tidak secara mental karena abussive dan tidak peduli anak. Atau bisa juga, ayah hadir namun ayah terlalu sibuk dengan handphone dan tak mau terlibat sama sekali dalam pengasuhan anak.
Sebaliknya, ada ayah yang tidak bisa hadir secara fisik, namun tetap hadir secara mental untuk anak-anaknya. Hal ini mengingatkan saya pada buku Sabtu Bersama Bapak yang ditulis Adhitya Mulya.
Dalam buku tersebut diceritakan seorang ayah yang meninggal karena kanker. Namun, sebelum meninggal, ayah ini sempat membuat seri rekaman video yang berisi pesan dan nilai kehidupan untuk kedua anak lakinya.
Kalau membaca bukunya atau melihat filmnya, kita akan tahu bahwa sosok ayah ini selalu hadir di setiap fase kehidupan anak melalui video yang diputar setiap hari Sabtu.
Jadi, "father hunger" ini tak bisa digeneralisasi berdasar faktor kehadiran fisik semata. Banyak contoh anak yang ayahnya meninggal, namun sang ibu mampu menjadi single parent dan menggantikan sosok ayah.
Ada juga pasangan yang bercerai, namun tetap bersama-sama bertanggung jawab dan bergantian mengasuh anak.
Atau juga anak yang karena pekerjaan ayahnya (pelaut, tambang offshore ), namun tetap dekat dengan ayahnya.
Ada juga ketika ayah tak bisa hadir secara fisik dan psikologi, kehadirannya tergantikan dengan kakek atau paman.
Mungkin sejalan dengan kemajuan pengetahuan psikologi dan parenting, kesadaran pentingnya sosok ayah ini juga semakin meningkat sehingga banyak orangtua menjadi bijak.
Yang ironis menurut saya adalah ketika ayah hadir secara fisik namun tidak hadir secara psikologis untuk anak. Sesuatu yang mungkin saja terjadi saat ini. Misalnya ayah yang terlalu sibuk dengan dirinya, sibuk dengan pekerjaannya, tidak mau repot, tidak fokus pada keluarga, atau mungkin sibuk dengan "pacar"nya (hadehhh...).
Peran Ayah dalam Pengasuhan