Mohon tunggu...
Suharyanto Mallawa
Suharyanto Mallawa Mohon Tunggu... Pustakawan - Pustakawan Perpusnas

Belajar Menulis Kepustakawanan dan Perpustakaan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Membaca Sejarah Perbukuan, Karya Bambang Trims

25 Agustus 2022   11:13 Diperbarui: 25 Agustus 2022   11:23 611
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
 Cover buku Pusat Perbukuan

Membaca buku Sejarah perbukuan : kronik perbukuan Indonesia melewati tiga zaman, sungguh mengasyikkan, seakan terlena dengan suasana perjalanan perbukuan dari masa ke masa, dan saya membacanya dengan cara era digital yaitu buku digital dalam bentuk pdf.  

Buku adalah perilaku budaya; buku adalah proses produksi budaya; dan buku adalah produk budaya. Bangsa yang berbudaya ialah bangsa yang menggunakan buku sebagai kendaraan kemajuannya, demikian pernyataan Ignas Kleden.

Tanggal 18 Agustus 2022, saya mendapat kiriman buku (pdf) dari Bambang Trims. Buku berjudul Sejarah Perbukuan : kronik perbukuan Indonesia melewati tiga zaman ditulis sendiri oleh Bambang Trimansyah atau dikenal dengan nama pena Bambang Trims, diterbitkan oleh Pusat Perbujuan. Badan Standar, Kurikulum, dan Assesmen Pendidikan. 

Diterbitkan 16 Agustus 2022. Bagi saya kiriman buku ini merupakan hadiah di Hari kemerdekaan RI ke-77, kado di Hari Kemerdekaan untuk lebih memahami sejarah perbukuan di Indonesia. 

Bambang Trims adalah seorang editor yang memulai kariernya sejak tahun 1995 dan telah menghasilkan ratusan karyanya yang telah disunting dan diterbitkan. 

Juga sebagai penulis yang telah menghasilkan 200 judul buku sejak tahun 1994. Banbang Trims merupakan suhunya penerbitan, yang aktif berbagai dalam bidang penulisan dan penerbitan, dan memberikan pembimbingan ke seluruh Indonesia

Dalam pengantar buku ini disebutkan, sejarah panjang perbukuaan di Indonesia menyiratkan bahwa budaya buku cetak (baca-tulis) juga sudah berkembang di Indonesia sejak pertengahan abad ke-17, selanjutnya, budaya itu menguat pada awal abad ke-20 yang mendorong lahirnya kaum terpelajar di Indonesia. Sejarah perbukuan di Indonesia, dibagi menjadi tiga bagian.

Bagian Pertama tentang Perbukuan sebelum kemerdekaan (1659-1945).

Masa ini merupakan masa pertama pada abad ke-17 atau pertengahan tahun 1600-an yang ditandai

dengan berdirinya institusi media (penerbit) mengiringi pencetak (percetakan) di Indonesia. Penerbitan awal didirikan oleh pengusaha Belanda, diikuti oleh pengusaha Tionghoa Peranakan, dan kemudian pengusaha pribumi. Masa ini berlangsung lama selama hampir tiga abad hingga masuk ke zaman pendudukan Jepang di Indonesia.

Bagian Kedua tentang  Perbukuan setelah kemerdekaan (1945-1998).

Masa ini merupakan masa kedua setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya tahun 1945. Penerbit Belanda hengkang dari Indonesia dan juga penerbit yang dikuasai pemerintah Jepang diambil alih oleh pemerintah Indonesia. 

Penerbitan bumiputra mulai bertumbuh kembang hingga memasuki masa Orde Baru. Pada masa ini terdapat dua masa pemerintahan di Indonesia, yaitu pemerintahan Sukarno dan pemerintahan Soeharto. 

Perkembangan perbukuan secara signifikan terjadi pada masa Soeharto memimpin atau disebut era Orde Baru. Pembagian submasa dengan merujuk pada pemerintahan semata-mata menunjukkan ciri kemajuan perbukuan yang tidak terlepas dari kebijakan politik perbukuan pemerintah Indonesia

Bagian Ketiga tentang Perbukuan Indonesia Baru (1999-sekarang)

Perbukuan pada masa awal feformasi, berisi tentang penerbitan buku pada masa krisis moneter, lahirnya Dewan Buku Nasional, lahirnya Badan Standar Nasional Pendidikan.

Perbukuan setelah satu dekade Reformasi, membahas tentang Lahirnya  UU sistem perbukuan, Terbentuknya Lembaga Perbukuan, Lahirnya Gerakan Literasi, Buku Indonesia di pannggung dunia, Ketika Tiga Lembaga mengurusi perbukuan,  tantangan pembajakan buku, Berita Baik Pajak perbukuan.

Tahun 2017 menjadi tonggak bersejarah bagi dunia perbukuan di Indonesia ketika pemerintah mengesahkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan yang kemudian ditindaklanjuti dengan pengesahan Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) telah mendapat amanat menjadi induk dari dunia perbukuan di Indonesia

Buku ini juga dilengkapi dengan Prolog yang berjudul Budaya buku pendiri bangsa berisi tentang melacak jejak sejarah perbukuan Indonesia, periodisasi sejarah perbukuan, dan inisiatif pusat perbukuan. Epilog yang berjudul Memintal kembali budaya buku di Indonesia, catatan akhir, dan daftar pustaka (38 rujukan).

Lebih mengasikan lagi dan menjadi bangga serta sebagai pemicu ketika membaca pada bagian Budaya buku pendiri bangsa, telah dilakukan oleh beberapa tokoh dan bahkan disebut sebagai Bibliofil (pencinta buku / penggila buku). Seperti Sukarno, Mohhamad Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahri, 

Mohammad Hatta, dalam usia 18 tahun telah menulis cerita yang dimuat di majalah Jong Sumatra sekitar tahun 1920 berjudul Namaku Hindiana Dalam pengasingannya di Boven Digul, Papua, Bung Hatta ditemani dengan buku sebanyak 16 peti, dan rutin menulis di koran Pemandangan tentang nasib orang-orang buangan. Sepanjang hayatnya, Hatta mengoleksi sekitar 10 ribu judul, menulis sebanyak 180 judul.

Sukarno, di dalam authobiigrafinya Bung Karno penyambung lidah rakyat yang ditulis oleh Cindy Adams, Sukarno menyatakan, "Dan di sana (buku) aku bertemu dengan orang-orang besar. 

Buah pikiran mereka menjadi buah pikiranku. Cita-cita mereka adalah dasar pendirianku,. Sukarno juga seorang penulis yang ulung, ia sangat produktif menulis sejak belia, bahkan pernah menjadi editor di sebuah majalah terbitan Sarekat Islam. 

Karya-karya Sukarno diantaranya Mencapai Indonesia Merdeka (1933), Lahirnya Pancasila (1945), Sarinah (1951), Di bawah bendera revolusi jilid 1 (1959), Jilid 2 (1960).

Sutan Sjahri atau dikenal dengan Bung Kecil, Perdana Menteri Pertama Indonesia, juga seorang penggila buku, kutu buku, telah membaca ratusan buku sejak remaja plus novel anak Belanda.

Tan Malaka, adalah pembaca buku yang rakus sekaligus penulis yang ulung, menghasilkan sebuah risslah berjudul Masa Actie (Aksi masa). Pada tahun 1926. Tulisan dibuat di Singapura, isinya tulisannya tentang pemikiran Tan Malaka pada masa itu yang menentang revolusi prematur dibuat sebanyak 12 bagian risalah. 

Risalah ini disebut sebagai sebuah buku yang juga menjadi pegangan para pejuang bangsa pada masa itu. Tan Malaja juga mempunyai nama Samaran. Ilyas Hussein. 

Pada tahun 1943  Tan Malaka menulis dan menerbitkan buku berjudul Madilog (Materialisme Dialektika Logika, diterbitkan secara mandiri (Self-publshing) buku ini setebal 568 halaman, ditulis selama 8 bulan dari Juli 1942 hingga Maret 1943. Pasca kemerdekaan buku Madilog ditetbitkan oleh Penerbit Widjaya (1951), dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Ted Sprague (1962) di Den Haaq.

Sejatinya buku ini akan lebih mengasikan lagi bila dilengkapi dengan rujukan tentang Undang-undang Nomor 13 Tahun 2018 Tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam agar mendapat gambaran bagaimana perkembangan perbukuaan dari sisi penerbita yang menyerahkan kewajibannya dua eksemplar ke Perpustakaan Nasional dan satu eksemplar ke Perpustakaan Dinas Provinasi.  Juga akan semakin komprehensip bila dilengakapi pemetaan penerbitan di Indonesia sebagai langkah dalam menyusun peta jalan penerbitan di Indonesia.

Sebagai penutup, Apresiasi  buat Pak Bambang Trim yang telah menulis  buku ini. Terus Berkarya dalam bidang penulisan dan penerbitan. Terus berjuang dalam upaya peningkatan kegemaran membaca dan peningkatan literasi di Indonesia.   Tetap semnagat, salah sehat dan bahagia selalu.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun