Lavrov (Menlu Rusia) dan Chavushoglu (Menlu Turki), dalam pembicaraan telepon, juga membahas persiapan untuk pertemuan mendatang antara Putin dan Erdogan.
"Kami tidak memiliki niat maupun gagasan untuk menghadapi Rusia. Satu-satunya niat kami di sana adalah agar rezim (Suriah) mengakhiri pembantaian dan dengan demikian mencegah, menghentikan radikalisasi dan migrasi," kata Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar.
Erdogan mengatakan bahwa Turki tidak bisa mengerti mengapa Rusia mendukung pasukan pemerintah Suriah. Apakah Erdogan benar-benar tidak mengerti posisi Rusia?
Apakah mungkin ini hanya intimidasi Turki. Kita semua mengetahui Rusia dan Suriah adalah sekutu, dukungan Putin untuk Suriah tidak bisa dihindari. Selain itu, Rusia memiliki kepentingan keamanan strategis yang besar di Suriah. Suriah, sebagai negara Timur Tengah, selalu memiliki nilai strategis yang sangat penting.
Dari Suriahlah, pengaruh Rusia ke seluruh Timur Tengah dapat terpancar, baik di  kawasan Mediterania dan Terusan Suez dapat terpengaruh. Rusia memiliki Pangkalan Angkatan Udara Khmeimim di Suriah, yang merupakan benteng penting bagi partisipasi Rusia dalam urusan Timur Tengah melawan hegemoni AS.
Selain itu, Rusia telah memperluas pangkalan angkatan lautnya di pelabuhan Suriah Tartus. Pelabuhan ini sekarang dapat menjangkar 12 kapal perang besar, bahkan kapal induk dan kapal penjelajah. Selama Suriah dipertahankan, Rusia dapat terus menggunakan pelabuhan dan pangkalan ini, dan Rusia tidak akan terusir dari Timur Tengah oleh AS.
Seiring dengan situasi yang semakin ketat, Turki juga baru-baru ini mengumumkan akan memblokir Bosphorus dan Dardanelles, yang merupakan satu-satunya jalan melalui Laut Hitam ke Laut Tengah.
Menurut Pasal 29 dan 21 Konvensi Selat Montreux 1936, Selat Laut Hitam dapat diblokir Turki jika situasi mendekati perang.
Jika sungguh terjadi keluar masuk Laut Hitam diblokir, armada Rusia di Laut Hitam tidak dapat mendukung front Suriah. Dalam keadaan seperti itu, Rusia perlu menjaga dua pangkalannya di Suriah untuk menghindari diblokir oleh Turki.
Karena itu tidak dapat dihindari bahwa Rusia akan meningkatkan dukungannya untuk pasukan pemerintah Suriah. Dalam analisis terakhir, kemunduran situasi di Suriah juga merupakan cerminan dari pecahnya konflik kepentingan antara Rusia dan Turki.
Sebenarnya, tampaknya Rusia tidak ingin memulai perang baru dengan Turki, karena Rusia tidak sekuat sebelumnya seperti era Uni Soviet waktu jaya.