Dalam beberapa tahun terakhir, pembahasan terkait dengan pilihan seseorang untuk tidak menikah serta childfree di Indonesia semakin sering diperbincangkan. Hal ini dikarenakan semakin banyak pula orang maupun komunitas yang mengangkat kedua tema tersebut dalam berbagai forum diskusi di media.Â
Melalui media, beberapa influencer di Indonesia juga ikut memberikan pernyataan kepada publik terkait dengan pilihan dalam pernikahan dan mempunyai anak.Â
Influencer-influencer tersebut ialah Leony ex-Trio Kwek-Kwek yang memutuskan untuk menjadi single atau tidak menikah selama masa hidupnya (Kalau Cewek Mah Bebas: Cara Jawab Kalau Ditanya Kapan Nikah | Narasi Signature, 2021), kemudian diikuti oleh Gitasav yang memutuskan untuk childfree setelah menikah, serta Chef Juna yang memberikan keputusan pada istrinya apabila ia ingin memiliki anak atau tidak (Trauma Masa Kecil Membuatku Tidak Mau Punya Anak: Cinta Laura x Chef Juna, 2021).Â
Pernyataan dari para influencer tersebut  memunculkan variasi respon dari masyarakat. Meskipun sudah cukup sering dibahas, pilihan untuk tidak menikah serta childfree rupanya masih memunculkan tuaian pro dan kontra di kalangan publik.Â
Tidak jarang, penyampaian pendapat terhadap dua tema tersebut berujung konflik antar satu sama lain. Rupanya, topik yang berkaitan dengan pilihan terhadap pernikahan masih dibalut dengan stigma-stigma tertentu.Â
Pernikahan dan Childfree: Apakah itu?
Sebelum kita membahas apa saja stigma-stigma tersebut, mari kita cari tahu pengertian dari pernikahan serta istilah childfree. Pernikahan adalah penetapan ikatan perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita yang siap berkomitmen secara emosional pada jangka waktu yang panjang.Â
Kemudian, apakah childfree itu? Menurut Cambridge Dictionary, childfree merupakan suatu kondisi dimana orang tidak memiliki anak berdasarkan keputusan atau pilihan sendiri.Â
Terdapat kesamaan dari beberapa faktor yang mendorong seseorang untuk tidak menikah ataupun tidak memiliki anak. Faktor-faktor tersebut adalah masalah kesehatan fisik atau mental pada individu, belum terdapat kesiapan secara material dan emosional, memiliki prioritas lain seperti karir, mengasosiasikan kedua pilihan tersebut dengan pengalaman traumatis seperti hubungan yang toxic (tidak sehat), dan lain sebagainya.Â
Baik pernikahan maupun keputusan untuk memiliki anak mempunyai keterkaitan dengan banyak aspek lainnya yang perlu disiapkan dan direncanakan secara matang, seperti aspek ekonomi, sosial, spiritual, kesehatan, prioritas, dan lain sebagainya. Pemenuhan aspek-aspek tersebut yang mempertimbangkan seseorang untuk menikah dan memiliki anak.