Paradoksal memang, di satu sisi perlu kecepatan, tetapi di sisi lain masyarakat belum siap dengan perubahan secara drastis. Ini menjadi kerancuan yang lainnya.
Selain itu kata fundamental yang digunakan juga terasa rancu. Reformasi fundamental cara bekerja bisa diartikan secara ekonomi atau pandemi.
Jika yang dimaksud fundamental adalah bekerja untuk menjalankan roda ekonomi, rasanya terlalu naif. Tetapi jika yang dimaksud bekerja untuk pandemi itu yang harus didukung.
Yang pertama lebih terasa di masyarakat, karena itu yang terlihat. Resesi yang terlihat, daya beli yang rendah yang terlihat, PHK dimana-mana yang terlihat dan pastinya angka kemiskinan yang mulai terlihat menanjak naik selaras dengan angka masyarakat yang terpapar covid-19.
Padahal dari sisi budaya, sebagai masyarakat yang religius seharusnya masyarakat kita lebih bisa memahami sesuatu yang tidak terlihat tetapi nyata adanya.
Alhasil, kerancuan biasa terjadi. Yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya. Menurut saya, lihatlah sisi positifnya, maka kita akan semangat menjalaninya.
Sisi negatif bisa dinetralisir dengan sisi positif, bahkan bisa berubah menjadi positif jika sisi positifnya dilebihkan. Beginilah seharusnya kita menyikapi segala kerancuan yang ada dalam kehidupan kita.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI