Setiap negara pasti mempunyai suporter militan dalam mendukung tim nasional kebanggaannya, tanpa terkecuali adalah Malaysia.Â
Mereka  menggelarkan dirinya Ultras Malaya (UM), lebih tepatnya Ultras Malaya 07. Karena didirikan pada tahun 2007 bersamaan dengan Piala Asia kala itu. Namun belakangan ini, mereka menggelarkan diri sebagai "Ekor Harimau Sejati".
Bergabung dengan curva Ultras Malaya merupakan suatu kebetulan belaka, karena tiket sudah habis terjual beberapa hari sebelumnya. Baik yang dijual secara online maupun tiket fizikal yang dijual di loket sekitar Stadion Putra Bukit Jalil.
Melihat antusiasme suporter Malaysia dan banyak yang tidak mendapatkan tiket, maka KBS- Kemenporanya Malaysia merencanakan akan membuka stadium Axiata (bersebelahan stadion utama) untuk menampung yang tidak kebagian tiket.Â
Karena ada informasi ini, saya memberanikan diri datang ke Bukit Jalil untuk menonton final Piala AFF Suzuki 2018 ini.
Memasuki Curva Ultras Malaysia
Sebagai sesama suporter, saya sudah memahami aturan-aturan dalam curva ini seperti harus bersepatu, menggunakan syal kebanggaan, berdiri selama 90 menit, memakai baju hitam atau jersi kebanggan, ikut arahan Capo dan kru, dan yang pastinya ngechant dan berdiri selama pertandingan berlangsung.
Kru-kru UM berbaris di setiap lorong-lorong tribun untuk mengatur suporter yang datang sambil memberikan arahan. Sandaran-sandaran kursi di sekitar saya telah dibungkus oleh plastik hitam sebagai persiapan untuk persembahan koreo nanti.Â
Kru-kru UM yang mengatur suporter menggunakan kaos berwarna kuning, sedangkan bagian perkusi di depan menggunakan kaos berwarna hitam berseragam.
Seluruh tribun di Stadion Bukit Jalil dipenuhi warna khas suporter Malaysia yaitu hitam dan kuning, sedangkan suporter Vietnam diletakkan di sebelah kanan tribun VIP.Â
Di seluruh tribun ini, saya tidak menjumpai orang memakai jersi klub daerah ataupun bendera-bendera komunitas yang dipajang di pagar depan dan samping tribun. Hanya bendera Malaysia dan bendera kuning bercorak hitam yang ada di setiap tribun, apalagi di tribunnya Ultras Malaya.
Tatkala pemain memasuki lapangan, semua suporter berdiri dan senyap untuk memberikan penghormatan kepada lagu kebangsaan Vietnam dan Malaysia sendiri.Â
Ketika lagu kebangsaan Malaysia "Negaraku" mau dikumandangkan, kru UM memberikan aba-aba untuk segera mengangkat plastik yang telah disediakan di sandaran kursi masing-masing.
Semuanya menyanyikan lagu "Negaraku" sambil menjunjung plastik yang telah disediakan. Setelah menyanyikan lagu kebangsaannya selesai, kru yang bertugas memberikan arahan lagi, untuk menyimpan plastik ke tempat asalnya semula.
Barulah setelah itu, Sang Capo memberikan arahan dan gerakan sambil menyanyikan chant penyemangat untuk Timnas Malaysia. Sambil sesekali kru-kru UM lainnya yang berpencar diantara suporter lainnya, membantu ikut menggerakkan dan menyemangati suporter di sekitarnya.
Saya sendiri sampai menghafalkan 3- 4 chant khas yang dinyanyikan selama pertandingan. Kegemuruhan nyanyian Ultras Malaysia sempat meredup, tatkala pemain Vietnam Nguyen Huy hung pada menit ke-22', memaksimalkan kemelut di depan gawang Malaysia menjadi sebuah gol.
Apalagi tiga menit kemudian ditambah dengan gol tambahan dari luar kotak penalti oleh Pham Duc Huy pada menit ke 25'. Saya lihat suporter di sekitar saya sudah kehilangan semangat dan teriakannya tidak sekencang awalnya. Para kru-kru UM memberikan kode untuk terus bernyanyi dan menyemangati, tatkala melihat sebagian suporter di tribunnya mulai meredup.
Keadaaan gemuruh kembali, tatkala Sharul Saad mengurangkan defisit gol untuk Malaysia pada menit ke-36', melalui sundulan ke gawang Vietnam. Curva Ultras Malaya bergetar dan saya dipeluk oleh suporter di sebelah saya, sayapun ikut bertepuk tangan untuk menghilangkan kecurigaan kepada saya.Â
Saya berdiri dan bernyanyi ikut gerakan sang Capo selama pertandingan berlangsung, dan saya menghormati rule-rule curva yang telah disepakati.
Sempat terjadi kericuhan di pintu masuk tribun Ultras Malaysia, karena banyaknya yang tidak kebagian kursi. Sehingga ketika babak turun minum pertama selesai, suporter yang ingin keluar membeli minuman, tidak diperbolehkan oleh mereka. Akhirnya terjadi percekcokan kecil , namundapat diselesaikan dengan baik.
Memasuki babak kedua, keriuhan Curva Ultras Malaya tetap berjalan dengan aneka nyanyian dan gerakannya. Apalagi tatkala Safawi Rashid mampu menyamakan kedudukan lewat tendangan bebas apada menit ke-60. Kedudukan tetap 2-2 hingga peluit pajang wasit dibunyikan.
Namun suasana dalam tribun Ultras Melaya tetap tak berubah, bergerak dan bernyanyi seperti sediakala. Akhirnya kegemuruhan itu diakhiri dengan menyanyikan lagu wajib perjuangan Malaysia, sambil menunggu para pemain Timnas Malaysia berbaris di hadapan tribun UM.Â
Kemudian aksi Viking Clapping dijadikan momentum akhir antara UM dengan Pemain.
Sempat terpikir, mengapa pada final AFC U-16 lalu, Pihak AFC melarang kami (Aliansi Suporter Indonesia di Malaysia) membawa stick/joran bendera, bahkan merampasnya dan tidak dikembalikan sampai sekarang.
Sedangkan pada aksi tadi malam, saya melihat ada 13 joran/stick berkibar dengan bendera Ultras Malayanya. Sedangkan aksi tersebut, sama-sama diadakan di stadion yang sama.
Apakah ada double standart atau pilih kasih dalam hal ini ? Semoga saja tidak, dan hanya lebih kesalahpahaman saja. Bukan hanya 3 joran/stick yang dirampas oleh AFC, namun juga bahan koreo 10 x 20 meter yang dibawa dari Indonesia, juga belum dikembalikan oleh mereka sampai sekarang.
Salam persaudaraaan dan salam fair play dari Kuala Lumpur
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H