Mohon tunggu...
Mohammad Adrianto Sukarso
Mohammad Adrianto Sukarso Mohon Tunggu... Lainnya - Apapun Yang Menurut Saya Menarik

Lulusan prodi Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta yang sekarang sudah mendapat pekerjaan di bidang menulis. Masih berharap punya tekad untuk menulis lebih bebas di platform ini.

Selanjutnya

Tutup

Raket Pilihan

Kala Owi-Butet dan The Minions Menutup Aib PBSI dengan Prestasi

12 September 2023   08:45 Diperbarui: 12 September 2023   10:28 320
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sejak kegagalan di Olimpiade 2012, tidak banyak lagi pemain yang bisa berbicara banyak di level dunia. Hendra/Ahsan bisa dikatakan yang paling konsisten. Greysia/Nitya juga kerap menjadi kuda hitam. Namun, ujung tombak dari bulu tangkis Indonesia adalah Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dari sektor ganda campuran. Mereka kerap jadi penyelamat Indonesia di berbagai turnamen. Owi-Butet, panggilan untuk pasangan ganda campuran ini, menjadi andalan Indonesia dalam meraih emas. 

Sejak dipasangkan pada 2010 lalu, mereka berhasil memenangkan 27 titel BWF Superseries, BWF World Tour, atau BWF Grand Prix. Salah satu yang paling fenomenal adalah ketika mereka mampu memperoleh podium tertinggi di All England 3 kali berturut-turut pada 2012-2014. Tidak hanya itu, mereka juga mampu memperoleh 2 medali emas di Kejuaraan Dunia 2013 dan Kejuaraan Dunia 2017 di Glasgow, Skotlandia. 

Dan tentunya, prestasi terbesar mereka adalah medali emas Olimpiade 2016 Rio De Janeiro, Brazil. Medali emas tersebut membayar tuntas kegagalan mereka di Olimpiade 2012, di mana saat itu mereka finis di 4 besar. Medali emas ini juga yang pertama bagi ganda campuran Indonesia. Di masa lampau, beberapa pasangan seperti Tri Kusharjanto/Minarti Timur dalam Olimpiade 2000 di Sydney, Australia atau Nova Widianto/Liliyana Natsir dalam Olimpiade 2008 di Beijing, Tiongkok, mentok mendapat perak. 

Kekurangan Owi-Butet mungkin tidak mampu menjuarai turnamen beregu seperti Piala Thomas, Piala Uber, atau Piala Sudirman, serta gagal meraih emas di Asian Games. Namun, setelah medali emas Olimpiade serta kemenangan di berbagai kompetisi, tentunya kegagalan tersebut bukanlah hal yang harus ditonjolkan dalam karir mereka.

The Minions Selamatkan Wajah Indonesia

Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo juara Indonesia Open 2019 (Sumber: PBSI)
Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo juara Indonesia Open 2019 (Sumber: PBSI)

Di akhir masa keemasan Owi-Butet, muncul ganda putra yang terkenal dengan gaya bermain yang eksplosif, enerjik, serta tingkah lakunya di lapangan. Mereka adalah Marcus/Kevin, biasa dipanggil dengan sapaan The Minions, mengacu kepada tinggi mereka yang cukup pendek untuk ukuran pebulu tangkis, serta seringnya mereka melompat untuk melakukan smes dalam pertandingan dan bermain dengan cepat.

Dipasangkan pada 2015, keduanya mulai dikenal publik memasuki awal 2016. Sedikit berbeda dengan Owi-Butet yang masih harus bersaing dengan banyak lawan lain meskipun di era keemasan mereka, The Minions adalah ganda putra yang benar-benar mendominasi nomor tersebut, dan hampir selalu dipastikan memenangkan turnamen yang mereka ikuti. Sebanyak 31 titel BWF Superseries, BWF World Tour, dan BWF Grand Prix mereka peroleh mulai dari 2016 sampai 2021. 

Di masa kejayaannya, The Minions menjadi ganda putra rangking 1 dunia mulai dari September 2017 sampai September 2022, menunjukkan dominasi mereka di sektor tersebut. Hanya segelintir lawan yang benar-benar mampu menyaingi permainan mereka. Puncaknya adalah pada 2018, di mana The Minions memperoleh emas di Asian Games ketika mengalahkan rekan senegaranya, Fajar/Rian. Pencapaian ini melanjutkan tren keberhasilan ganda putra Indonesia di Asian Games sejak 2010. The Minions memang gagal memperoleh gelar Kejuaraan Dunia BWF atau Olimpiade. Meskipun begitu, bukan berarti mereka bisa dipandang sebelah mata.

The Minions lebih dikenal sebagai penguasa Superseries lantaran dominasi mereka di turnamen-turnamen BWF. Sebagai perbandingan, meskipun belum lagi mampu bermain di level tertinggi, total 31 titel saat menjadi pasangan serta 2 titel ketika dipasangkan dengan partner lain, membuat mereka mereka berada di urutan ke-9 sebagai peraih gelar  BWF Superseries, BWF World Tour, dan BWF Grand Prix. Kedigdayaan The Minions pada masanya sulit untuk dibantah.

Di masa keemasan The Minions, atlet bulu tangkis yang memiliki konsistensi serupa tidak banyak. Jojo dan Ginting di tunggal putra, Greysia Polii bersama partner barunya Apriyani Rahayu di ganda putri, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti di ganda campuran lebih banyak menyandang status kuda hitam yang sesekali membuat kejutan di sejumlah turnamen. 

Jojo, yang bukan unggulan di Asian Games, sempat diharapkan menjadi tumpuan utama setelah mampu menyingkirkan banyak pemain lain yang lebih senior, yang sayangnya masih belum mampu menunjukkan performa tertinggi. Pun halnya Ginting di China Open 2019 dan Olimpiade 2021. Greysia/Apriyani mampu menunjukkan kombinasi pengalaman dan ketangkasan ketika meraih emas di Olimpiade 2021. Praveen/Melati juga kerap menjegal ganda campuran kuat lain kala menjuarai Denmark Open 2019, French Open 2019, dan All England 2020.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Raket Selengkapnya
Lihat Raket Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun