"Jangan biarkan keraguan pada diri sendiri, menghalangi Anda" (Kristine Carlson, 2003)
Dalam hidup, kita sering mengalami keraguan yang tidak jarang menghalangi kita untuk mencapai sesuatu yang tertargetkan atau diinginkan, sama seperti ketika kita hendak mengambil keputusan.Â
Saya sendiri tergolong manusia yang cukup lama dalam mengambil keputusan. Terlalu banyak menimbang ini dan itu, dan selalu mempertanyakan akan kualitas keputusan yang telah saya tetapkan.Â
Terlalu lama berpikir tetapi tidak meyakini hasil keputusan yang sudah diputuskan. Adakah yang sejalan dengan saya? Nyatanya cukup dengan membuat keputusan, 24 jam dalam sehari terasa begitu cepat.
Bicara tentang keputusan, keputusan tersulit apa yang pernah kita ambil selama hidup? Mungkin diantara kita sering berpikir panjang terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu, seperti saya terlebih keputusan tersebut yang kita anggap penting.Â
Kenyataan nya tanpa kita sadari, menurut survei yang pernah saya baca menyatakan bahwa setiap harinya manusia membuat sekitar 35.000 keputusan, apabila dihitung per-jam nya, maka setiap jam kita mengambil kurang lebih sebanyak 1.500 keputusan.Â
Mengapa bisa demikian? Karena sebagian besar keputusan yang kita ambil adalah keputusan yang sebenarnya pada hal-hal yang remeh. Contohnya seperti, "makan siang nanti sama mie instan atau bakso ya?" . "Nanti makan dulu atau mandi dulu ya?" atau "Nugas sekarang atau nonton film dulu ya?" Dan lain sebagainya. Tetap tidak jarang, disela-sela tersebut diselipkan dengan perkara-perkara yanag cukup serius seperti, "Lanjut kuliah atau langsung bekerja?", "Konsultasi sekarang atau minggu depan?", dan lain sebagainya.
Dikatakan keputusan apabila terdapat dua objek atau lebih, dimana salah satu harus tereliminasi. Ketika membuat keputusan, otak secara otomatis akan bekerja mencari rasionalisasi atas apa yang kita bandingkan.
Baiklah, langsung saja kita masuk kedalam contoh yang mengharuskan kita untuk membuat suatu keputusan. Sebagai contoh, anggap saja saya membutuhkan laptop untuk perkuliahan. Dikarenakan terdapat berbagai macam brand dari laptop itu sendiri, maka?Â
Bagaimana cara saya untuk memutuskan brand laptop apa yang hendak saya beli? Mari kita bahas bersama-sama, alur saya dalam memutuskan perkara diatas.
Sebelumnya, apabila kita memecahkan problem diatas menggunakan cara yang ditulis oleh Stephen P. Robbins dan Mary Coulter perihal the dicision-making process di dalam bukunya.
Maka akan dilaluinya 8 tahap dalam mengambil keputusan, yaitu identifikasi masalah, identifikasi kriteria keputusan, mengalokasikan bobot pada kriteria, mengembangkan alternatif, menganalisi alternatif, memilih alternatif, mengimplementasikan alternatif, dan mengevaluasi keefektifan keputusan.
Mari kita unboxing bersama!
Pertama, Identifikasi Masalah.
Seperti yang sudah disebutkan diatas, bahwa contoh masalah yang akan kita bedah kali ini adalah membutuhkan laptop untuk perkuliahan. Jadi, untuk tahap ini masalah telah teridentifikasi.
Kedua, Identifikasi Kriteria Keputusan.
Kriteria disini dimaksudkan untuk menentukan faktor yang sangat penting untuk menyelesaikan masalah.Â
Dari masalah di atas, saya ingin menetapkan kriteria permasalahan menjadi 7 yaitu harga, storage, konektifitas perangkat, daya tahan batrai, prosesor, desain, dan kualitas layar. Setelah menetapkan kriteria yang mendukung terbentuknya keputusan, maka beranjaklah pada tahap berikutnya.
Ketiga, Mengalokasikan Bobot pada Kriteria.
Maksut dari tahap ini adalah diberikanya bobot pada kriteria untuk mempermudah kita dalam memprioritaskan aspek yang menjadi poin utama. Lalu, sesuai dengan kriteria keputusan yang telah dibuat, maka ditentukanlah bobot pada kriteria. Kurang lebih seperti berikut:
- Harga = 10
- Storage = 8
- Konektifitas = 7
- Daya tahan baterai = 9
- Prosesor = 6
- Desain = 5
- Kualitas layar = 4
Apabila telah menentukan bobot disetiap kriterianya, maka beranjaklah pada tahap berikutnya.
Keempat, Mengembangkan Alternatif.
Tujuan dari adanya tahap ini adalah untuk membantu memecahkan masalah. Dlihat dari masalah diatas, saya akan menentukan 5 alternafif brand laptop yang saya pilih, yaitu A, B, C, D dan E.
Kelima, Menganalisis Alternatif.
Pada tahap ini dilakukannya penilalian alternatif yang didasarkan pada kemampuan setiap alternatif dalam memecahkan masalah. Perhatikan tabel dibawah ini:


Setelah dilakukannya penilaian, maka saatnya memilih alternatif berdasarkan nilai tertinggi. Sesuai dengan data diatas apabila dijumlahkan maka akan menemukan hasil sebagaimana berikut:

Maka, dilhat dari total di atas. Brand yang mendapatkan poin terbanyak adalah brand Dsebagai alternatif yang terpilih dengan poin yang didapat sebanyak 411 poin.
Kedelapan, Mengevaluasi Keefektifan Keputusan.
Tujuan dari tahap ini untuk menemukan keberhasilan sebuah keputusan dari hasil yang di dapat.
Evaluasi keputusan dari brand D adalah harga murah, penyimpanan cukup besar, konektifitas cukup lengkap, daya tahan baterai cukup lama, prosesor baik, desain yang bagus, dan kualitas layar yang keren.
Maka, dilihat dari evaluasi kefektifan keputusan disimpulkan bahwa pengambilan keputusan sudah tepat dan sesuai kebutuhan.
Nah, kurang lebih seperti itu cara mengambil keputusan versi Stephen P. Robbins dan Mary Coulter. Semoga contoh diatas dapat menjadi panduan teruntuk kalian yang ingin membuat keputusan dalam hidup selain menggunakan mantra anti ribet yang jauh dari kata rasional yaitu, "Cap cip cup kembang kuncup, pilih mana yang mau di cup". Tapi tidak mengapa apabila menggunakan mantra tersebut hanya sekadar memutuskan sesuatu yang tidak begitu penting atau tidak begitu mempengaruh hidup kita.
Kesusahan dalam mengambil keputusan yang cukup serius? Bisa dilirik the dicision-making process ala Stephen P. Robbins dan Mary Coulter, mungkin saja cocok.
Jika terlalu gabut, dan terlalu bingung untuk memutuskan menu makan siang hari itu apa, boleh lah menggunakan cara diatas, hehehe selamat mencoba.
Yakin, masih ragu?
Terima kasih dan semoga bermanfaat.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI