Teruntuk yang memiliki hatiku dan kuharapkan menjaganya agar tetap hidup bersama setiap hembusan nafasnya di sana..
Aku diam-diam menulis untukmu berbait-bait cinta yang kusisipkan dalam sepi malam dan hangatnya bintang-bintang yang menghiasi..
Ingin aku sampaikan banyak hal namun aku hanya penulis yang lebih mahir menggores-goreskan penaku dibanding berceloteh penuh makna di hadapanmu..
Untaian kata yang menghiasi bait-bait setelah kalimat ini tiba-tiba mendesak ujung-ujung pembuluh darahku untuk menuliskannya agar suatu hari kau menemukannya dan membacanya ketika merinduiku!
Ini aku..
Seseorang yang setiap mencuri pandang untuk melihat indahnya kedipan matamu dari balik bahu itu, kemudian tersipu sendirian..
Seseorang yang apabila mendapati detak jantungmu berdegup memburu ketika kita bersama, lalu tersipu sendirian..
Dan aku..
Seseorang yang apabila jemarimu menyuapiku dengan lembut,
diam-diam aku menahan senyumku sebab tersipu karena kau tengah lekat menatapiku,
aku berusaha keras tampak tenang meski rasanya jantungku kini yang mungkin meledak, melalak!
Tersipu aku, maka kulemparkan tatap pada langit berpendar indigo berpulas awan..
Masih tersipu sendirian menikmati tiupan angin yang menggoda anak-anak rambut tuk menari dengan iringannya..
Lalu saat ini kembali aku tersipu, mengingat dua pasang mata kita yang saling bertaut dan berkedip dengan lambat..
Ah..
Lagi-lagi aku tersipu sendirian menyadari hatiku yang mendadak hangat mengingat lengkung senyum dan jenakanya matamu apabila tengah terbelalak..
Lalu aku cukupkan kalimat-kalimatku yang kurangkai dengan perasaan rindu dalam bilik temaram ditemani alunan tetes hujan yang mulai mencumbu bumi.
Bandung,29092024
_Luna Rizki_
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H