Mohon tunggu...
Lukas amabayo
Lukas amabayo Mohon Tunggu... Lainnya - lukas ama bayo

menulislah, maka dunia akan mengenalmu

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Adonara dan Sebuah Tradisi Perang yang Unik

20 Oktober 2020   18:11 Diperbarui: 20 Oktober 2020   18:17 775
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber: facebook.com/eM.epenkah.co.id

Ketika pagi datang mereka mulai turun ke lokasi yang telah ditentukan. Ketua atau pemimpin perang akan melepaskan anak panah dari busurnya untuk memberikan tanda bahwa perang segera dimulai. Biasanya perang dimulai pada pagi hari sekitar jam 06.00 sampai sekitar pukul 09.00. Ada jeda waktu untuk rehat sejenak. 

Biasanya jam istrirahat inilah para tetua adat atau pemimpin perang saling diskusi memberikan instruksi serta strategi dalam perang. Perang dimulai lagi sekitar jam 15.00 sampai 18.00 wita. Perang tanding ini bisa juga dikatakan perang saudara. 

Karena masyarakat Adonara memandang orang sebagai kakan no arin (kakak dan adik). Oleh karena kakan no arin inilah maka perang tanding memiliki peraturan yang sangat ketat yakni perempuan, anak kecil, atau orang-orang yang tidak terlibat dalam masalah atau konflik tidak boleh dibunuh.  

Merujuk pada akar kata Adonara, ado dan nara. Nara adalah teman atau sekutu. Jika kita melihat perang dunia kedua, negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Britania Raya, Uni Soviet, Dan Tiongkok adalah empat sekutu terbesar pada perang dunia kedua. 

Mereka disebut sekutu karena terjadi kesepakatan bersama untuk bersatu melawan kelompok yang lainnya. Hal ini juga terjadi pada masyarakat Adonara. 

Sekutu atau dalam bahasa Adonara disebut nara adalah gabungan dari beberapa kampung atau kelompok suku tertentu yang bersepakat untuk bersatu dalam tujuan yang sama melawan kelompok suku lainnya. 

Maka perang yang biasanya hanya melibatkan dua kampung atau kelompok suku tertentu menjadi besar lantaran keterlibatan nara dalam perang. Kehadiran nara dalam perang itu terjadi karena faktor kekeluargaan antar kampung atau suku (nayu baya).

Pada awal mula, perang di Adonara hanya menggunakan peda (parang), gala (tombak), serta dopi (perisai), yang sampai sekarang masih melekat dalam tarian hedung. Benda-benda lain seperti keris, senapan atau pistol maupun senjata rakitan lainnya tidak diperbolehkan dalam medan perang. Namun moderenisasi telah membawa dampak buruk bagi manusia atau orang Adonara sendiri dalam menata perang. 

Sehingga pada tahun-tahun belakangan ini justru benda-benda yang telah menjadi kesepakatan dalam perang zaman dahulu sudah hilang. Orang-orang lebih mengedepankan keegoisan untuk kepentingan kelompoknya. Sehingga senjata-senjata rakitan banyak sekali ditemukan saat perang tiba.

Hal yang sudah menjadi pewaris tradisi perang adalah ritual adat sebelum turun ke medan  perang. Ritual ini dalam bahasa Adonara disebut bau lolon. Bau lolon adalah sebuah ritual untuk memadukan kekuatan Rera Wulan dan Tanah Ekan (Tuhan) sebagai sumber kekuatan bagi manusia. Sesuatu yang dimulai dengan ritual bau lolon akan menjadi sakral. Kebenaran dari ritual bau lolon ini akan terungkap dengan darah ketika salah satu pihak meinggal dalam jumlah yang banyak.

Orang Adonara menyebut perang adalah sebuah keberanian. Berani merebut keadilan. Keadilan yang merenggut nyawa. Jika nyawa sebagai taruhan dalam mencari kebenaran maka lakukanlah dengan prinsip adat. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun