Kue ini berbeda dengan roti kegemaran orang Indonesia pada umumnya yang biasanya empuk. Tekturnya yang cenderung keras dan bantat itu malah terasa enak, jika disantap bersama secangkir teh hangat atau kopi hitam yang pahit.
Orang Semarang biasanya menikmatinya dengan cara dicelup dulu ke dalam kopi atau teh hangat hingga roti agak lembek baru digigit. Gigit sedikit demi sedikit seolah sayang kalau dimakan sekali langsung masuk mulut. Dijamin kenyang! Saran lain adalah tidak perlulah ganjel rel ini diputar-putar sebelum dilahap, seperti iklan sebuah roti di televisi itu.
Konon, keberadaan roti ganjel rel itu kini sudah semakin langka, tetapi dengan informasi dari mulut ke mulut biasanya berhasil menemukan tempat roti ini dijual. Beberapa penjual roti ini mulai mempertimbangkan selera pasar, sehingga ada penyesuaian bentuk, rasa, dan seterusnya.
Dugderan di Semarang
Menjelang bulan puasa, kota Semarang biasanya diramaikan dengan semacam pasar malam selama beberapa hari. Ketika masih kecil, pasar malam dugderan ini menjadi salah satu 'pasar' favorit yang saya tunggu-tunggu.
Pasar malam dugderan tersebut menjadi semacam tempat hiburan bagi saya dan teman-teman. Kebetulan rumah saya dekat dengan tempat dugderan ini, yaitu di daerah pasar Johar.Â
Di hari terakhir dugderan itu yang merupakan sehari sebelum bulan Ramadhan diadakan karnaval atau arak-arakan Warak Ngendhog. Pada bagian akhir arak-arakan itu dibagikan roti ganjel rel dan air khataman itu kepada masyarakat. Jumlahnya yang terbatas menyebabkan masyarakat berebut mendapatkan roti ganjel rel itu.
Bisa dipahami jika di tradisi dugderan, roti ganjel rel menjadi semacam ikon penting bagi masyarakat Semarang di setiap tahunnya. Kehadiran roti ganjel rel menjadi simbol tak ada gangguan dengan harapan dapat memperkuat diri selama kurang lebih sebulan menjalankan ibadah puasa.
Tradisi Kirab Budaya Dugderan di Semarang selalu berlangsung meriah dengan ciri khas mengarak ikon lain kota Semarang, yaitu Warak Ngendhog.
Warak ini merupakan hewan fantasi yang menjadi simbol bagi kerukunan antar-etnis di ibu kota Jawa Tengah itu. Mulai dari kepala naga yang menjadi simbol etnis Tionghoa, badan unta menyimbolkan etnis Arab, dan kaki kambing menjadi simbol bagi orang Jawa.