Nah, kembali ke internal keluarga kami. Jika anak kami mau melanjutkan proses homeschooling, tentu ini akan menyenangkan, karena anak tidak terpaku dengan mata pelajaran yang kelihatannya hanya "begitu-begitu saja", tetapi anak bisa mengeksplorasi banyak hal di luar sekaligus mempraktikkannya.
Apa saja yang bisa dieksplorasi di luar sekolah?
Banyak. Tentunya tidak sekadar duduk manis mengerjakan worksheet, tetapi juga menggali banyak hal di luar.
Sebut saja menjelajah alam sekitar, mengenal tanaman dan hewan di sawah, berjalan-jalan ke tempat wisata sekaligus belajar, mengenal transportasi dengan bepergian menggunakan aneka kendaraan, dan sebagainya.
Jadi, bisa dibilang ketika orang lain melihat kami jalan-jalan atau pun liburan, sebenarnya itu adalah proses belajar bagi anak. Bahkan tak jarang proses belajar yang dilakukan anak bisa dilakukan saat malam hari, ketika kebanyakan anak sudah tidur. Apalagi anak saya tipikal anak yang tidak bisa diam kalau energinya belum habis.
Kalau kesannya hanya begitu saja, kenapa harus homeschooling?
Kenapa tidak?
Kalau menurut saja, sekolah formal maupun homeschooling bagi anak itu preferensi. Ah, jangankan sekolah formal versus homeschooling, pada saat memilih sekolah formal pun, para orang tua berhadapan dengan sejumlah pilihan, seperti:
- Sekolah negeri atau swasta
- Sekolah umum atau sekolah alam
- Sekolah swasta berbasis agama, praktikum, atau bisnis
- Sekolah yang lokasinya dekat atau jauh
- Sekolah pilihan orang tua, anak atau bahkan kakek-neneknya
- Sekolah dengan kurikulum pemerintah seperti Merdeka, Montessori, Cambridge, atau lainnya
- Serta masih banyak perbandingan lainnya