Mohon tunggu...
Tri Lokon
Tri Lokon Mohon Tunggu... Human Resources - Karyawan Swasta

Suka fotografi, traveling, sastra, kuliner, dan menulis wisata di samping giat di yayasan pendidikan

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Tekno Artikel Utama

Mengamati "Full Blue Moon" Jarak Terdekat Bulan ke Bumi

1 September 2023   08:24 Diperbarui: 1 September 2023   15:00 987
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Siswa Mengamati Full Blue Moon (Dokumentasi pribadi)

Setelah makan malam, jam 19.00 Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA), (31/08/2023) sekitar 30 siswa SMA Lokon (berasrama) peminat astronomi, bergerak menuju ke kubah Mt. Lokon Observatory yang berlokasi di lantai atas gedung sekolah.

Mt. Lokon Observatory berada di lantai tiga di rooftop. Mario K, guru astronomi SMA Lokon, sudah memasang dua teleskop "Sky-Watcher" dan "Star-Watcher" di sekitar kubah. Tak hanya itu, ujung dua teleskop sudah mengarah ke Tenggara, di mana Bulan mulai mengorbit.

Siswa Mengamati Full Blue Moon (Dokumentasi pribadi)
Siswa Mengamati Full Blue Moon (Dokumentasi pribadi)

Pengamatan menggunakan teleskop hanya bisa dilakukan satu per satu melalui lubang alatnya. Namun, Mario K memberikan penjelasan tentang fenomena terjadinya Supermoon.

"Supermoon dalam tahun ini terjadi beberapa kali. Juli, Agustus dan September. Malam ini, Supermoon dinamakan Full Blue Moon". Mengapa dinamakan seperti itu? 

Ini bukan karena bulannya berwarna biru. Tetapi, sebutan untuk bulan purnama yang muncul kedua dalam satu bulan kalender (Agustus) yang memiliki dua bulan purnama. Jelas ya?" kata Mario K kepada para siswa.

Super Full Moon sebutan lain dari Supermoon karena bulan berada di titik terdekatnya dengan bumi dan tampak lebih besar dan lebih terang dari biasanya, imbuh Mario K.

Maria Laude, Ketua Jurnal Losnito, mendekati teleskop "skywatcher" untuk mencoba "mengeker" bulan dari lubang. Namun, Maria tidak puas melihat dari lubang itu, cahaya Bulan terlihat terang. Kemudian, Maria bergeser ke teleskop "starwatcher" yang sudah dipasangi HP untuk melihat bulan.

Mengedukasi dari sudut Astronomi (Dokumentasi pribadi)
Mengedukasi dari sudut Astronomi (Dokumentasi pribadi)

Hanya dengan merekayasa agar HP auto fokus, Maria bisa melihat Bulan lebih detil. Tampak jelas permukaan Bulan, lubang kawah-kawah dan garis-garisnya mirip buah melon.

"Kawah-kawah yang ada di bulan itu, sudah ada namanya. Kawah Copernicus berdiameter 93 kilometer, kawah Tycho berdiameter 85 kilometer, kawah Plato berdiameter sekitar 101 kilometer, dan kawah South Pole-Aitken Basin, punya cekungan yang lebarnya 2.500 kilometer dan tidak mudah dilihat dari Bumi" tambah Mario menjelaskan kepada para siswa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Lihat Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun