Mohon tunggu...
Nadia EtiListiana
Nadia EtiListiana Mohon Tunggu... Lainnya - ❣️

Everything has change

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Etika Belajar dalam Islam

26 Juni 2020   00:00 Diperbarui: 11 Juni 2021   05:52 4805
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Etika Belajar dalam Islam. | Kompas

Pengertian Etika

Etika adalah sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas standar moral dan penilaian. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. St. John dari Damaskus (abad ke-7 Masehi) menempatkan etika dalam studi filsafat praktis.

Etika dimulai ketika orang merenungkan unsur pendapat etis spontan kami. Kebutuhan untuk refleksi bahwa kita akan merasa, sebagian karena kita opini etis tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Hal ini diperlukan untuk etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang harus dilakukan oleh manusia.

Sebagai ilmu, objek etika adalah perilaku manusia. Namun, tidak seperti ilmu-ilmu lain juga meneliti perilaku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Ini adalah sudut pandang etika tindakan manusia yang baik dan buruk.

Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (konsep etika), etika normatif (studi penentuan nilai etika), dan diterapkan etika (studi tentang penggunaan nilai-nilai etika).

Baca juga: Pentingnya Disiplin dan Etika Belajar Selama Berkuliah

Pengertian Belajar

Belajar adalah suatu proses atau usaha yang menjadi dasar atau fundamental didalam pendidikan setiap individu. Dengan adanya belajar, setiap individu mengalami berbagai perubahan baik dalam tingkah laku, pengetahuan, pola pikir, keterampilan dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan kehidupannya.

Secara umum, belajar adalah suatu proses atau usaha yang dilakukan oleh setiap individu untuk mendapatkan suatu perubahan didalam kehidupannya baik tingkah laku, pengetahuan, sikap, keterampilan, pola atau daya pikir, nilai kehidupan, dan berbagai kemampuan lainnya yang diperlukan didalam kehidupan.

Belajar sudah seharusnya mengarah kepada hal-hal yang positif dan bersifat membangun. Setiap individu dapat belajar dari lingkungan sekitarnya seperti di sekolah, rumah, lingkungan pergaulan/masyarakat, laboratorium, museum dan yang lainnya.

Baca juga: Sedikit Etika Belajar di Kelas bagi Pelajar

Etika Belajar dalam Islam

Etika dan proses belajar manusia memiliki hubungan yang saling terkait. Pada satu sisi, belajar sebagai kegiatan manusia merupakan aktivitas yang memerlukan normanorma moral tentang bagaimana seharusnya belajar dalam bingkai karakter dan ciri khas manusia yang demikian unik, disisi lain etika sebagai pemikiran manusia tentang baik atau buruk sangat diperlukan untuk merefleksikan kegiatan belajar manusia setiap saat. 

Nilai-nilai dan ide tentang kegiatan belajar yang berlaku secara umum perlu dikaji secara rasional, kritis, mendasar dan sistematis. Sehingga norma yang ditaatinya dalam proses belajar bukan sekedar karena kebiasaan atau adat yang berlaku di masyarakat, melainkan karena memiliki dasar dan legitimasi yang kuat untuk diikuti dan ditaat.

Pelajar juga harus mempunyai sikap tidak terburu-buru dan tidak memaksakan guru untuk menjelaskan sesuatu yang belum saatnya. Seorang pelajar haruslah menampilkan sosok yang bersahaja dan sikap memuliakan gurunya. Maka sudah menjadi hal yang lumrah etika-perlu dijaga oleh si pelajar dan juga menjaga sikap dan prilaku terpuji dihadapan gurunya.

Baca juga: Arti Pentingnya Etika Belajar Dalam Suatu Kampus (Sekolah)

Poin penting yang perlu diperhatikan dalam perumusan aturan yang harus ditaati dan dilakukan tersebut ialah bahwa belajar bukan hanya interaksi yang dilakukan oleh individu dengan lingkungan, melainkan juga dengan Allah Swt. Dengan demikian, belajar dalam Islam memiliki sifat yang transendental,hubungannya tidak terbatas secara horizontal melainkan juga berkaitan secara vertikal.

Dipertegas oleh Imam Nawawi bahwa seorang murid haruslah :

1. Hendaklah peserta didik menjauhi halhal yang menyibukkan kecuali karena merupakan kebutuhan.
2. Membersihkan hati dari kotoran-kotoran dosa supaya hati menjadi baik untuk menerima Al-Qur'an, menghafalkannya dan menghafalkannya.
3. Hendaklah peserta didik bersikap tawadhu" terhadap pendidiknya meskipun pendidiknya lebih muda darinya, kurang tersohor, lebih rendah nasabnya dan hendaklah peserta didik bersikap tawadhu" terhadap ilmu, karena dengan sikap tersebut peserta didik akan mendapatkan ilmu."
4. Hendaklah peserta didik patuh kepada pendidiknya dan membicarakan segala urusannya. Dia terima perkataannya seperti orang sakit yang berakal menerima nasihat dokter yang mempunyai kepandaian, maka yang demikian itu lebih utama.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun