"Jangan nangis dong, La." Suaranya melemah, emh... untuk pertama kalinya aku mendengar suaranya yang melemah, biasanya dia sangat suka berteriak, mengoceh panjang lebar, dan lain sebagainya.
Aku mengangkat kepalaku dan kembali berteriak, yang benar saja! dia menenangkan aku dengan topeng menyeramkan yang masih melekat sempurna di wajahnya.
"Ehk-ehk maaf, ini udah di lepas." Dia tergugup dan buru-buru menyembunyikan topeng itu di belakangnya.
"Gak lucu yah," aku bangkit dan meninggalkannya begitu saja.
UKS adalah tempat terakhirku, meninggalkan jam olahraga dengan alasan sakit cukup tepat. Aku membaringkan tubuhku dan mengelurkan segala umpatan kepada dia. Aargh yang benar saja, kenapa sih dia begitu? Sudah caper, sok banget, sok dekat, dan sekarang berani mengerjaiku.
Minggu-minggu berikutnya aku merasa sangat tenang, entah angin apa yang membuatnya tidak lagi bersikap menyebalkan. Bahkan dia yang tidak pernah absen sekalipun tiba-tiba hanya hadir dengan perwakilan sebuah surat yang menyatakan dirinya tidak bisa hadir karena sakit gigi. Sudah aku duga, dia tidak menyebalkan karena sakit gigi.
Benar saja, setelah giginya sembuh dia kembali bersikap menyebalkan. Tetapi aku masih merasa sedikit asing, dia tidak semenyebalkan dulu. Emh... perubahan yang bagus pikirku saat itu. Bahkan sekedar menarik ujung rambutku saja tidak lagi.
Begitu selanjutnya, aku jadi berpikir dia menghindariku?
Menurut kalian bagaimana?
Ternyata benar dia menghindariku, tetapi---biar aku beri tahu, cara dia menghindariku mengapa jelas sekali? Seperti ketika kami saling beradu pandang, tiba-tiba dia mengalihkan wajahnya sambil mengeluarkkan suara "euhk". Seolah-olah memang sengaja menghindariku dengan cara yang anak-anak sekali!
Tidak hanya itu, ketika kami berpapasan. Dia memilih memutar sambil membuang muka seperti yang aku katakan sebelumnya.