Akhirnya mulai cari-cari rumah sakit lain yang bisa nerima rujukan BPJS untuk ke bedah mulut. Tapi ternyata hasilnya selalu terlalu jauh dari rumah.
Coba cari alternatif lain dengan datang ke RSUD kotaku. Ternyata oh ternyata, tetap sama aja hasilnya.Â
Kata suster yang jaga poliklinik saat itu, untuk ketemu dokter spesialis bedah mulut (SpBM) akan masuk ke waiting list ditambah harus nunggu hal lain karena dokternya mau pendidikan di luar negeri.
Masih penasaran lagi, akhirnya aku memutuskan untuk mengganti rujukanku dari faskes satu untuk ke RSUD. Hal ini aku lakukan soalnya RS yang mau aku tuju saat itu adalah salah satu RSUP di Jakarta Selatan, di mana wilayah ini beda dengan domisiliku makanya butuh rujukan dulu dari RSUD (itu sedikit hal yang aku tahu, untuk lebih detailnya aku nggak ngerti).
Melalui berbagai drama di RSUD seperti miskomunikasi sampai pernah kejadian BPJS error yang mengharuskan aku nunggu berhari-hari walaupun akhirnya rujukan dari RSUD berhasil aku dapatkan. Dari sini aku mulai mempersiapkan diri bolak-balik dari rumahku ke Jakarta Selatan.Â
Oh iya, pada saat itu sebetulnya nyeri di gigiku udah berkurang jadi nggak terlalu ganggu aktivitas. Tapi karena udah terlanjur ribet ngurusin plus ketakutan rasa nyeri dan demamnya kambuh akhirnya tetap lanjut usahain operasi ini.
Alhamdulillah pertama kalinya datang ke RSUP ini langsung bisa ketemu dokter SpBM, tanpa waiting list apapun.Â
Di RSUP ini aku langsung disarankan rontgen panoramic dengan ke Radiologi dengan rujukan dokter (jadinya gratis, hehe).Â
Aku panoramic nggak langsung di hari pertama ketemu dokter ya, karena selesai dari poliklinik udah agak siang jadi antreannya luar biasa.Â
Di hari pertama ketemu dokter ini, aku disuruh tebus obat anti nyeri tapi ternyata kata apoteknya obat ini nggak ditanggung BPJS jadi mending tebus di luar aja.
Waktu panoramic saat itu hasilnya cuma nunggu sekitar 20 menitan aja, jadi nggak perlu bolak-balik untuk ambil hasilnya. Setelah hasilnya keluar, aku kontrol ke dokter sesuai jadwalnya.Â